Teori perilaku konsumen: kardinal dan ordinal

By | June 22, 2020

Teori perilaku konsumen disini akan membicarakan mengenai keputusan rumah tangga untuk mengkonsumsi barang. Teori perilaku konsumen penting untuk dipelajari agar memahami sisi permintaan barang dan jasa. Disini teori perilaku konsumen memberikan gambaran bagaimana konsumen menentukan alokasi sumber daya ekonominya untuk mencapai kepuasan maksimum.

Tujuan dari seseorang untuk melakukan konsumsi yaitu untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan memenuhi kebutuhan ini, konsumen akan mencapai kepuasan atau manfaat. Bagi konsumen, penting untuk mencapai kepuasan maksimum dalam konsumsi. Perilaku konsumen dalam melakukan konsumsi inilah yang ingin dibahas pada kesempatan ini.

Teori perilaku konsumen memiliki dua pendekatan yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal. Karena teori perilaku konsumen ini memiliki dua pendekatan yang digunakan, sehingga pembahasan teori perilaku konsumen ini akan dibagi menjadi dua bagian tersebut.

 

PENDEKATAN KARDINAL

Keputusan seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang  didasarkan pada perbandingan antara manfaat yang diperoleh (kegunaan) dengan  biaya yang harus dikeluarkan. Dalam teori perilaku konsumen dengan pendekatan kardinal memiliki pandangan bahwa kegunaan dapat dihitung secara nominal. Hal ini mirip seperti kita menghitung berat dengan satuan berat (kilogram, gram), panjang dengan satuan panjang (meter, cm).  Adapun untuk menghitung kegunaan dalam pandangan kardinal yaitu dihitung dengan satuan util.

Ada beberapa istilah dan asumsi yang harus diketahui dalam membahas teori perilaku konsumen:
1. Utilitas Total  (Total Utility) yaitu nilai kegunaan atau manfaat yang diperoleh dari konsumsi
2. Utilitas Marginal (Marginal Utility) yaitu tambahan kegunaan yang diperoleh dari penambahan  satu unit barang yang dikonsumsi.
3. Semakin banyak barang yang di konsumsi seseorang maka besar kegunaan/manfaat yang didapatkan. Bila di konsumsi lebih dari satu barang, maka nanti akan di kategorikan masukan dalam satu bundel barang. gampangnya, nanti akan cuma di sebut sebagai barang.
4. The low of diminishing marginal utility (hukum pertambahan manfaat yang makin menurun). Atau yang dikenal juga dengan hukum Gossen. Berdasarkan hukum gossen bahwa penambahan konsumsi suatu barang akan menambah utilitas yang besar, akan tetapi makin lama pertambahan utilitas akan semakin mengecil bahkan bisa negatif.
5. Konsistensi Preferensi. Konsumen harus mampu menyusun prioritas pilihan agar bisa membuat keputusan dan bersifat konsisten.
6. Pengetahuan yang sempurna tentang barang yang akan keputusan konsumsinya.

Untuk lebih memahami teori perilaku konsumen dengan pendekatan kardinal perhatikan contoh pendekatan kardinal dari tabel berikut:

Harga Barang (Rp) Jumlah Barang dikonsumsi Uang yang harus dikeluarkan (Rp) Total Utilitas (Util) Utilitas Marginal (Util)
25000 1 25000 50000 50000
25000 2 50000 125000 75000
25000 3 75000 185000 60000
25000 4 100000 225000 40000
25000 5 125000 250000 25000
25000 6 150000 250000 0
25000 7 175000 225000 -25000
25000 8 200000 100000 -125000

Anggaplah harga suatu barang (X) adalah sebesar 25.000. Pada tabel diatas di berikan contoh perilaku konsumen yang mengkonsumsi barang dari barang ke 1 hingga ke 8. Ada beberapa poin yang patut diperhatikan dari tabel diatas:

  • Dari kolom utilitas dapat kita lihat bahwa semakin banyak barang yang dikonsumsi maka total utilitasnya akan semakin besar (saat mengkonsumsi barang ke 1-5) tetapi setelah mencapai konsumsi ke 6, pertambahan konsumsi justru tidak menambah total utilitas bahkan menambah konsumsi lagi setelahnya (konsumsi barang ke 7 dan 8) justru semakin memperkecil total utilitasnya. Kondisi memperkecil total utilitas ini sudah menujukkan kondisi menambah konsumsi justru tidak bermanfaat lagi bahkan membawa keburukan. Konsumsi yang membawa manfaat hanya terjadi pada konsumsi ke 1 hingga ke 5
  • Pada kolom utilitas marginal dapat diperhatikan bahwa pada awal-awal mengkonsumsi barang akan menambahkan utilitas marginal yang besar (Konsumsi barang ke 1 dan 2). Utilitas marginal disini menggambarkan besarnya tambahan manfaat yang diperoleh akibat menambahkan konsumsi 1 unit barang. Pada utilitas marginal dari mengkonsumsi barang pertama yaitu 50000. Karena pada saat mengkonsumsi barang ke 1 diperoleh total utilitasnya sebesar 50000, dan sebelumnya tidak mengkonsumsi barang sehingga dianggap utilitas sebelumnya nol sehingga 50000-0 = 50000. Bila di tambahkan konsumsi 1 unit barang lagi sehingga menjadi 2 barang, maka diperoleh total utilitas dari mengkonsumsi 2 barang yaitu sebesar 125000, sedangkan marginal utilitas akibat menambah konsumsi 1 unit barang terakhir yaitu sebesar 75000 (diperoleh dari 125000-50000. Yang patut diperhatikan yaitu adanya hukum gossen yang terjadi, yaitu setelah konsumsi barang ke 3 dan seterusnya, terlihat adanya nilai marginal utilitas yang semakin mengecil bahkan hingga bernilai negatif. Artinya menambahkan konsumsi barang 1 unit akan menambahkan manfaat yang semakin mengecil bahkan bisa hingga negatif bila terus dikonsumsi.

Dari tabel diatas apabila dibuat dalam bentuk kurva akan terlihat seperti dibawah ini:

 

 

Dari tabel dan kurva diatas terlihat bahwa konsumsi yang memberikan kepuasan maksimum yaitu pada saat mengkonsumsi barang ke 5 karena pada saat tersebut mengkomsumsi barang masih memberikan tambahan manfaat, sedangkan mengkonsumsi barang ke 6 tidak memberikan tambahan manfaat, dan mengonsumsi barang ke 7 dan 8 justru mengurangi manfaat.

 

PENDEKATAN ORDINAL

Dalam pendekatan Ordinal menganggap bahwa kegunaan (utilitas) tidak dapat dihitung. Utilitas hanya dapat dibandingkan seperti kita menilai kecantikan atau kepandaian. Pendekatan Ordinal menggunakan kurva Indifference Curve untuk menjelaskan pendapatnya.

Kurva indeferen merupakan kurva yang dapat mengggambarkan kombinasi pilihan yang dapat dilakukan dari mengkonsumsi 2 jenis barang. Kombinasi mengkonsumsi 2 barang ini bisa menghasilkan tingkat kepuasan yang sama.

Meskipun disebutkan dalam pendekatan ordinal bahwa kegunaan/kepuasan/utilitas tidak dapat dihiting, namun untuk keperluan studi tidak salah bila kurva indiferen diterjemahkan dalam persamaan kuantitatif.
Misalnya nilai utilitas dari mengonsumsi bakso dan sate di tulis sebagai berikut:
U = X.Y      …… (3)
U = Tingkat kepuasan/ utilitas
X = Makan Bakso
Y = Makan Sate

Beberapa contoh kombinasi kepuasan tertentu dari mengkonsumsi 2 barang tersebut ditampilkan dalam tabel berikut:

Bakso

(Mangkok per Bulan)

Sate

(Porsi per bulan)

25 4
20 5
10 10
5 20
4 25

Dari tabel tersebut dapat dilihat beberapa kombinasi dari mengkonsumsi 2 barang (bakso dan sate). Bila pilihan kombinasi yang dipilih yang pertama (25 mangkok bakso dan 4 porsi sate) akan memberikan kepuasan/utilitas yang sama dengan memilih kombinasi yang lainnya. Hal ini secara lebih jelas tergambar dalam kurva indeferen berikut:

Ada 3 asumsi yang digunakan dalam kurva indiferensi
1. Semakin Jauh kurva indiferen dari titik origin, semakin tinggi tingkat kepuasan
2. Kurva indiferen menurun dari kiri atas ke kanan bawah (downward sloping), dan cembung ke titik origin (convex to origin)
3. Tidak saling berpotongan

Dari kurva indiferen diatas hanya menampilkan satu garis kurva indiferen. Sepanjang garis kurva indiferen diatas menggambarkan kombinasi dua barang yang di konsumsi dengan tingkat kepuasan yang sama. Apapun pilihan kombinasi yang dibuat, kepuasan yang didapat sama. Yang berbeda hanya komposisi jumlah bakso dan jumlah sate yang makan.

Untuk lebih jelas mengenai teori perilaku konsumen dengan pendekatan ordinal ini perlu mendalami lebih jauh terkait kurva indiferen dan bagaimana kurva indiferen berubah. Pembahasan lengkap terkait kurva indiferen akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *