Cara menghitung Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan dan Indeks Pengeluaran dalam IPM

Pada kesempatan ini akan dibahas cara menghitung Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan dan Indeks Pengeluaran.  Ketiga indeks tersebut merupakan komponen indeks pembentuk Indeks Pembangunan Manusia. Sebelum IPM dihitung, perhitungan pasti harus menghasilkan terlebih dahulu nilai perhitungan dari Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan dan Indeks Pengeluaran. Baru setelah itu nilai IPM bisa dihitung. Pada kesempatan ini kita akan lebih khusus mengulas cara menghitung Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan dan Indeks Pengeluaran.

Langsung saja simak penjelasan mengenai indeks-indeks tersebut:

 

  • Indeks Pembangunan Manusia

Pada tahun 1990, menyadari akan pentingnya pembangunan manusia, dikembangkan suatu indikator oleh UNDP yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang bisa mengukur kesejahteraan masyarakat baik dari dimensi ekonomi maupun dimensi sosial (Badan Pusat Statistik, 2016a). Tujuan utama pembangunan menurut UNDP adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif. Sehingga pembangunan manusia didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices). Pembangunan manusia diukur dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Manfaat dari IPM yaitu menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia. (BPS, 2014)

Indeks pembangunan manusia dibentuk oleh 3 (tiga) dimensi dasar yaitu:

  • Umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life)
  • Pengetahuan (knowledge)
  • Standar hidup layak (decent standard of living)

Dari ketiga dimensi dasar tersebut diukur secara teknis dari indikator- indikator. Indikator yang digunakan untuk mengukur umur panjang dan hidup sehat menggunakan indikator angka harapan hidup (AHH). Sedangkan indikator untuk mengukur pengetahuan dari indikator harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). Sedangkan untuk indikator standar hidup layak digunakan indikator pengeluaran perkapita yang disesuaikan. Setiap komponen IPM distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Komponen yang distandarisasi ini nanti akan menjadi indeks pendidikan, indeks kesehatan dan indeks pengeluaran. Dari ketiga indeks inilah nanti akan dihitung nilai indeks pembangunan manusia.

Adapun ketiga indeks pembentuk IPM tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Indeks Kesehatan

Indeks kesehatan merupakan salah satu komponen IPM dimensi kesehatan (usia harapan hidup) yang distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Niali Indeks kesehatan yang berupa satuan angka. Indeks Kesehatan dihitung dari indikator kesehatan berupa angka harapan hidup yang distandarisasi. Indeks kesehatan dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝐼𝑛𝑑e𝑘𝑠 𝐾e𝑠eℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 =      𝐴𝐻𝐻 − 𝐴𝐻𝐻𝑚i𝑛           

𝐴𝐻𝐻𝑚𝑎k𝑠 − 𝐴𝐻𝐻𝑚i𝑛

Menurut (BPS, 2014) bahwa angka harapan hidup saat lahir – AHH (life expectancy-e0) didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. AHH dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan. Untuk standarisasi dalam perhitungan indeks pembangunan manusia maka digunakan AHH minimum sebesar 20 tahun, dan AHH maksimum yaitu 85 tahun.

 

  1. Indeks Pendidikan

Indeks pendidikan yaitu komponen IPM dimensi pendidikan (harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah) yang distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Indeks pendidikan dibentuk dari nilai indikator berupa harapan lama sekolah dan rata- rata lama sekolah yang distandarisasi. Indeks pendidikan dapat dihitung sebagai berikut:

𝐼𝐻𝐿𝑆 =       𝐻𝐿𝑆 − 𝐻𝐿𝑆𝑚i𝑛       

𝐻𝐿𝑆𝑚𝑎k𝑠 − 𝐻𝐿𝑆𝑚i𝑛

 

𝐼𝑅𝐿𝑆 =       𝑅𝐿𝑆 − 𝑅𝐿𝑆𝑚i𝑛       

𝑅𝐿𝑆𝑚𝑎k𝑠 − 𝑅𝐿𝑆𝑚i𝑛

 

𝐼𝑛𝑑e𝑘𝑠 Pendidikan = 𝐼𝐻𝐿𝑆 + 𝐼𝑅𝐿𝑆

2

Angka harapan lama sekolah – HLS (expected years of schooling-EYS) adalah lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka harapan lama sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Adapun dalam pembentukan nilai indeks maka dilakukan standarisasi dengan menggunakan nilai harapan lama sekolah sebesar 0 tahun dan nilai maksimal sebesar 18 tahun (BPS, 2014).

Rata-rata lama sekolah – RLS (mean years of schooling-MYS) adalah jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas. Untuk menstandarkan nilai indeks kesehatan dalam perhitunan IPM maka digunakan nilai minimum untuk rata-rata lama sekolah sebesar 0 tahun dan nilai maksimal sebesar 15 tahun (BPS, 2014).

 

  1. Indeks Pengeluaran

Indeks pengeluaran yaitu komponen IPM dimensi hidup layak (pengeluaran perkapita rumah tangga yang disesuaikan) yang distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Adapun perhitugan nilai indeks pengeluaran dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝐼𝑛𝑑e𝑘𝑠 𝑃e𝑛𝑔e𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 =      ln(𝑝e𝑛𝑔e𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛) − ln(𝑝e𝑛𝑔e𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛min)                 

ln(𝑝e𝑛𝑔e𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛maks) −   ln(𝑝e𝑛𝑔e𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛min)

 

Pengeluaran perkapita yang disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (purcashing power parity-PPP). Rata-rata pengeluaran per kapita setahun diperoleh dari Susenas, dihitung dari level provinsi hingga level kabupaten/kota. Rata-rata pengeluaran perkapita dibuat konstan/riil dengan tahun dasar 2012=100. Adapun dalam standarisasi indeks pengeluaran yang dilakukan maka menggunakan nilai pengeluaran perkapita minimum sebesar 1.007. 436 rupiah dan pengeluaran perkapita maksimum sebesar 26.572.352 rupiah. (BPS, 2014)

Perhitungan paritas daya beli pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya merupakan komoditas non makanan. Metode penghitungan paritas daya beli menggunakan Metode Rao.

 

Semoga pemaparan singkat diatas memberikan kita gambaran bagaimana cara menghitung Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan dan Indeks Pengeluaran. Semoga bermanfaat

 

Sumber:

Fadlli, Muhammad Dzul. (2019). ANALISIS INDIKATOR KINERJA UNTUK EVALUASI PEMBANGUNAN DENGAN KERANGKA LOGIC MODEL PADA SEKTOR KESEHATAN, PENDIDIKAN DAN EKONOMI DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PADA TAHUN 2010-2016. Universitas Brawijaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top