Perekonomian 2 Sektor

Pengertian perekonomian 2 sektor

Perekonomian 2 sektor adalah perekonomian yang terdiri atas interaksi 2 pelaku ekonomi yaitu sektor rumah tangga dan perusahaan. Dalam makroekonomi, interaksi perekonomian 2 sektor ini dipandang sebagai aktivitas ekonomi yang paling sederhana. Dalam analisis sederhana perekonomian 2 sektor ini diasumsikan tidak ada keterlibatan sektor pemerintah dan luar negeri dalam kegiatan ekonomi. Interaksi pelaku ekonomi dalam perekonomian 2 sektor hanya dari sektor perusahaan dan rumah tangga.

Pembahasan perekonomian 2 sektor menyangkut konteks tingkat kegiatan ekonomi negara. Sehingga perekonomian 2 sektor membicarakan tentang pendapatan nasional atau permintaan agregat atau penawaran agregat. Namun keseimbangan perekonomian yang dibangun dengan asumsi sederhana dimana ada 2 pelaku ekonomi.

Pembahasan interaksi pelaku ekonomi dalam perekonomian 2 sektor dapat dibedakan dalam 2 corak kegaitan ekonomi. Pertama, melihat interaksi pelaku ekonomi 2 sektor dalam kondisi perekonomian subsistem. Kedua, melihat interaksi pelaku ekonomi 2 sektor dalam kondisi perekonomian modern. Kedua perbedaan kondisi perekonomian ini, membawa sedikit perbedaan interaksi dalam perekonomian 2 sektor tersebut.

 

Hubungan interaksi pelaku ekonomi dalam perekonomian 2 sektor

Sebelum berlanjut pada penjelasan kedua corak interaksi pelaku ekonomi, perhatikanlah ilustrasi gambar perekonomian 2 sektor berikut ini:

Gambar perekonomian 2 sektor

Gambar perekonomian 2 sektorGambar perekonomian 2 sektor dapat dilihat pola interaksi pelaku ekonominya sebagaimana terlihat pada gambar diatas. Ada 2 pelaku ekonomi yaitu sektor rumah tangga dan perusahaan. Gambar perekonomian 2 sektor diatas menunjukkan aliran pendapatan. Pada garis pertama terjadi aliran pendapatan dari rumah tangga ke perusahaan. Sedangkan garis kedua terjadi aliran pendapatan dari perusahaan ke sektor rumah tangga. Penjelasan lebih lengkap mengenai interaksi ekonomi tersebut tergambar dalam 2 sub pembahasan dibawah ini:

 

1.      Hubungan pelaku ekonomi dua sektor dalam perekonomian subsisten

Hubungan pelaku ekonomi dua sektor dalam perekonomian dianggap model interaksi perekonomian paling sederhana. Dalam perekonomian 2 sektor sendiri terdapat bentuk yang dianggap paling sederhana diantara interaksi 2 pelaku ekonomi tersebut. Corak kegiatan ekonomi tersebut disebut sebagai subsisten. Pada hubungan pelaku ekonomi dua sektor, corak kegiatan ekonomi subsisten dilakukan dengan cara barter. Perlu diingat oleh pembaca bahwa harus benar-benar hati-hati dalam membedakan antara corak kegiatan ekonomi yang ada. Karena akan berimplikasi pada interaksi antar pelaku ekonomi yang berbeda. Corak perekonomian subsisten menggunakan metode perdagangan dengan barter (pertukaran barang). Barter berarti perdagangan bersifat terbatas dan tidak menggunakan uang sebagai alat pertukaran.

Perekonomian 2 sektor dengan corak subsisten memiliki karakteristik sederhana. Penerimaan yang rumah tangga peroleh hanya dipergunakan untuk konsumsi saja. Tidak ada aktivitas menabung dalam rumah tangga. Begitu pula dengan pula perusahaan tidak memiliki aktivitas penanaman modal. Dengan demikian, keseluruhan nilai dari apa yang dihasilkan oleh perusahaan akan sama dengan keseluruhan pengeluaran rumah tangga.

Nilai keseluruhan produksi oleh perusahaan akan sama dengan nilai keseluruhan konsumsi rumah tangga. Produksi yang dilakukan oleh perusahaan akan menggunakan faktor produksi yang disediakan oleh sektor rumah tangga. Dengan faktor produksi ini perusahaan dapat menghasilkan output (barang atau jasa). Karena sektor rumah tangga telah mau memberikan faktor produksinya kepada perusahaan sehingga berhak mendapatkan balas jasa. Perusahaan akan memberikan balas jasa berupa gaji/upah, bunga, sewa, dan keuntungan. Balas jasa dari perusahaan ini menjadi pendapatan bagi rumah tangga. Pendapatan ini semuanya dipergunakan untuk konsumsi hasil produksi perusahaan. Siklus aliran pendapatan pada perekonomian 2 sektor dengan corak subsisten akan berlangsung seperti itu terus.

Bila produksi dari perusahaan mengalami kenaikan, maka konsumsi rumah tangga juga akan meningkat. Produksi meningkat akan menyebabkan pendapatan yang diterima rumah tangga akan meningkat juga. Karena faktor produksi yang digunakan untuk meningkatkan produksi berasal dari sektor rumah tangga. Kenaikan pendapatan rumah tangga ini akan sama besar dengan kenaikan produksi. Karena sektor rumah tangga tidak melakukan penabungan, maka konsumsi rumah tangga akan meningkat sesuai kenaikan pendapatan. Dan itu semua dipergunakan untuk konsumsi hasil produksi. Sehingga jumlah yang diproduksi perusahaan akan sama dengan jumlah konsumsi rumah tangga.

 

2.      Interaksi pelaku ekonomi 2 sektor pada perekonomian modern

Gambar perekonomian 2 sektor diatas, sektor rumah tangga berperan sebagai penyedia faktor produksi. Faktor produksi ini diperlukan oleh sektor perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa. Faktor produksi yang dapat disediakan oleh rumah tangga dapat berupa tenaga kerja, modal atau pinjaman dana, penyedia persewaan (baik gedung, dll) dan kewirausahaan. Sebagai balas jasa atas penyediaan faktor produksi tersebut, sektor perusahaan harus “membayar” pada sektor rumah tangga seperti dalam bentuk gaji/upah, sewa, bunga dan deviden.

Tiap jenis faktor produksi memiliki balas jasa tertentu pula. Misalnya rumah tangga menyediakan faktor produksi berupa tenaga kerja maka balas jasa yang diberikan oleh perusahaan yaitu berupa gaji. Apabila rumah tangga sebagai pemilik tanah atau gedung yang disewakan pada perusahaan maka bayaran dari perusahaan yaitu berupa uang sewa. Bila perusahaan menggunakan modal yang berasal dari pinjaman, maka rumah tangga sebagai pemilik dana akan diberikan bunga oleh perusahaan. Sedangkan profit/keuntungan/deviden diberikan kepada rumah tangga pemilik perusahaan karena berani mengambil resiko untuk berbisnis (kewirausahaan).

Pembayaran yang dilakukan sektor perusahaan kepada rumah tangga akan menjadi pendapatan bagi sektor rumah tangga. Pendapatan yang diterima rumah tangga akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya (konsumsi). Perilaku rumah tangga (konsumen) untuk memenuhi kebutuhannya dilandasi oleh kebutuhan untuk mencapai kepuasan (utilitas).

Perilaku rumah tangga sebagai konsumen akan mengkonsumsi (membeli) barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Uang yang digunakan oleh rumah tangga untuk konsumsi akhirnya akan mengalir pada sektor perusahaan. Hal tersebut menjadi pendapatan bagi perusahaan.

Rumah tangga tidak menggunakan semua pendapatannya untuk konsumsi. Ada sebagian yang dipergunakan untuk menabung. Tabungan milik rumah tangga akan disimpan pada lembaga keuangan seperti bank. Bank selanjutnya menyalurkan dana tersebut kepada perusahaan dalam bentuk pinjaman. Dari peristiwa tersebut sektor rumah tangga mendapatkan pendapatan berupa bunga tabungan/deposito. Sedangkan pihak perusahaan harus membayar bunga pinjaman. Itulah alasan mengapa salah satu pendapatan yang dimiliki oleh rumah tangga adalah berupa bunga.

Sehingga pendapatan yang dimiliki oleh rumah tangga salah satunya dipergunakan juga untuk menabung. Hal ini yang membedakan dari perekonomian 2 sektor dengan corak subsisten. Pada perekonomian 2 sektor modern, pendapatan dapat dipergunakan untuk menabung juga. Uang dipergunakan sebagai alat tukar/pembayaran. Serta ada lembaga keuangan untuk menabung uang. Karena ada lembaga keuangan bank, sehingga perusahaan juga dapat meminjam dana dari bank sebagai modal usaha.

Dalam analisis ekonomi lebih jauh akan lebih banyak menggunakan konsep dari perekonomian 2 sektor dengan corak kegiatan ekonomi modern. Termasuk dalam pembahasan keseimbangan perekonomian 2 sektor akan berlandaskan pada perilaku pelaku ekonomi dengan corak kegiatan modern. Adapun kegiatan ekonomi dengan corak subsisten dalam tulisan ini hanya sebagai tambahan pembelajaran saja.

 

Baca juga: Perekonomian 4 sektor

 

Keseimbangan perekonomian 2 sektor

Sebelum membahas terkait keseimbangan perekonomian 2 sektor, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana hubungan keterkaitan diantara pendapatan, konsumsi dan tabungan. Oleh sebab itu pembahasan keseimbangan perekonomian 2 sektor ini akan dibuat dalam 2 sub bagian. Pertama hubungan pendapatan, konsumsi dan tabungan yang tergambar dalam sub bagian fungsi konsumsi dan fungsi tabungan pada perekonomian 2 sektor. Kedua, kondisi keseimbangan perekonomian 2 sektor.

 

Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan pada perekonomian 2 sektor

Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan pada perekonomian 2 sektor akan menggambarkan bagaimana bentuk hubungan diantara pendapatan, konsumsi dan tabungan. Hubungan ini akan menggambarkan misalkan pada perubahan pendapatan tertentu, akan menyebabkan seberapa konsumsi berubah (fungsi konsumsi) dan berapa tabungan berubah (fungsi tabungan).

Pendapatan merupakan faktor yang sangat penting yang mempengaruhi konsumsi dan tabungan. Didalam hubungan antara pendapatan dan konsumsi terdapat istilah yang dikenal dengan marginal propensity to consume (MPC) dan average propensity to consume (APC). MPC dan APC ini akan menggambarkan hubungan diantara pendapatan dan konsumsi. MPC menggambarkan perbandingan pertambahan konsumsi terhadap pertambahan pendapatan disposabel. MPC akan menggambarkan kecondongan marginal dalam konsumsi. Sedangkan APC menggambarkan tingkat konsumsi rata-rata. Dimana tingkat konsumsi dibandingkan terhadap tingkat pendapatan disposabel.

Apabila pendapatan yang didapatkan semakin besar maka akan mendorong tingkat konsumsi yang semakin besar pula. Konsep MPC akan memberikan gambaran lebih jelas, seberapa besar kenaikan konsumsi bila terjadi kenaikan pendapatan. Nilai MPC berkisar antara 0-1. Misalkan nilai MPC yang diperoleh sebesar 0,8 berarti bila pendapatan mengalami kenaikan sebesar 1 maka akan ada kenaikan konsumsi sebesar 0,8 dari kenaikan pendapatan disposabel tersebut.

Sebaliknya dari contoh tersebut akan didapat nilai dari MPS sebesar 0,2. MPS menggambarkan kecondongan menabung marginal atau perubahan tabungan akibat dari perubahan pendapatan. Sama halnya dengan MPC, pada nilai MPS ini juga menggambarkan hubungan keterkaitan antara perubahan tabungan dan perubahan pendapatan. Hal ini sesuai dengan pembahasan kita diawal bahwa pendapatan akan digunakan untuk konsumsi dan tabungan.

Baca selengkapnya: MPC, MPS, APC, APS

Agar dapat lebih memahami hubungan antara pendapatan, konsumsi dan tabungan, berikut ini akan dibuatkan sebuah contoh yang mengilustrasikan hubungan diantara ketiganya. Perhatikan tabel berikut ini:

Y C S MPC MPS
0 75 -75
100 150 -50 0.75 0.25
200 225 -25 0.75 0.25
300 300 0 0.75 0.25
400 375 25 0.75 0.25
500 450 50 0.75 0.25
600 525 75 0.75 0.25
700 600 100 0.75 0.25
800 675 125 0.75 0.25
900 750 150 0.75 0.25
1000 825 175 0.75 0.25

 

Sebelum menjelaskan maksud dari tabel diatas, kami ingin menampilkan bentuk fungsi (kurva) dari data ilustrasi yang ditampilkan diatas. Dengan gambar fungsi konsumsi dan fungsi tabungan ini akan memberikan ilustrasi hubungan diantara ketiganya. Penjelasan secara lebih mendalam berdasarkan tabel dan fungsi akan dijelaskan setelah ditampilakan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan berikut ini:

Gambar kurva fungsi tabungan dan fungsi konsumsi dalam perekonomian 2 sektor

Pada kurva yang berwarna biru diatas menggambarkan pendapatan nasional. Kurva pendapatan nasional tersebut sesuai dengan data yang ditampilkan pada tabel diatas. Garisnya bermula dari kondisi ketika pendapatan 0 bahkan hingga mencapai pendapatan sebesar 1000. Pada kondisi kondisi awal terlihat bahwa konsumsi lebih tinggi dari pendapatan dan tabungan dibawah garis nol. Seiring berjalannya waktu pendapatan, konsumsi dan tabungan meningkat serta pendapatan lebih besar dari konsumsi dan tabungan.

Dari beberapa rangkai peristiwa dalam ilustrasi diatas terdapat beberapa hal yang dapat dipelajari:

  1. Kondisi pendapatan lebih rendah dari konsumsi

Pada saat kondisi pendapatan sebesar 0, 100, dan 200 sektor rumah tangga mengalami kondisi pendapatan yang lebih rendah dari konsumsi. Meskipun begitu, konsumsi justru tetap dilakukan bahkan lebih tinggi dari pendapatan. Kondisi seperti terjadi karena konsumsi saat itu menjadi kebutuhan mendasar. Misalkan saat kita sedang tidak memiliki pendapatan, apakah hal tersebut menjadi kita tidak memiliki kebutuhan makan dan minum? Kebutuhan-kebutuhan mendasar seperti makan dan minum yang pokok akan tetap dikonsumsi meskipun pendapatan nol atau belum mencukupi.

Hal seperti ini memungkin terjadi apabila sektor rumah tangga memiliki tabungan yang mereka miliki. Tabungan tersebutlah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Mengais dari tabungan yang ada sebagai akibat dari pendapatan yang tidak mencukupi. Hal tersebut harus dilakukan karena adanya kebutuhan konsumsi yang harus dipenuhi. Oleh sebab itu didalam kurva kita melihat kurva tabungan (warna abu-abu) bernilai minus. Artinya tabungan yang sebelumnya ada terpaksa digunakan untuk konsumsi.

  1. Kondisi saat semua pendapatan digunakan untuk konsumsi

Berdasarkan kurva diatas, setelah melewati fase pendapatan yang lebih rendah dari kebutuhan yang ada, selanjutnya mencapai titik jumlah pendapatan sama dengan kebutuhan konsumsi. Pada kondisi seperti ini tidak ada pendapatan yang dapat dipergunakan untuk menabung. Pada kurva, kondisi ini tercapai saat pendapatan mencapai 300.

  1. Kondisi pendapatan lebih tinggi dari konsumsi

Kondisi selanjutnya dengan pendapatan lebih 300, sektor rumah tangga sudah mulai bisa menabung lagi. Seperti contoh pada kurva terlihat bahwa pendapatan 400, 500, hingga 1000, pendapatan yang diperoleh dipergunakan untuk mengkonsumsi barang atau jasa, serta dipergunakan untuk menabung. Saat kondisi ini terjadi, kurva pendapatan lebih tinggi dari kurva konsumsi dan tabungan. Selain itu, kurva tabungan juga naik diatas angka nol. Artinya sektor rumah tangga menyisihkan pendapatannya juga untuk menabung.

  1. Pola semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi konsumsi dan tabungan

Bila diperhatikan dengan sesama, ketika pendapatan dibuat linear mengalami kenaikan pendapatan. Maka pola kurva konsumsi dan tabungan juga mengalami kenaikan. Artinya semakin tinggi pendapatan maka konsumsi dan tabungan semakin tinggi. Sektor rumah tangga hanya akan menambah konsumsi dan menambah tabungan hanya sebesar tambahan pendapatannya. Tidak memungkinkan tambahan konsumsi dan tabungannya lebih besar dari tambahan pendapatan. Tambahan konsumsi dan tabungan sudah seharusnya sesuai besarnya tambahan pendapatan.

Kebetulan ilustrasi dalam kurva ini dibuat dengan nilai MPC dan MPS yang tidak berubah. MPC berdasarkan hitungan pada tabel diperoleh sebesar 0,75. Artinya dengan pertambahan pendapatan sebesar 100 seperti pada contoh data tabel, maka sebesar 75 akan dipergunakan untuk menambah konsumsi. Sedangkan nilai MPS yaitu sebesar 0,25. Artinya dengan kenaikan pendapatan sebesar 100 maka sebesar 25 akan dipergunakan untuk menabung.

Pola lain mungkin saja terjadi di dunia nyata. Nilai MPC dan MPC bisa saja tidak selalu sama. Namun secara umum didunia nyata, pada kondisi pendapatan rendah biasanya pendapatan akan cenderung banyak dipergunakan untuk konsumsi sehingga nilai MPC biasanya tinggi. Namun semakin kaya pada saat tambahan pendapatan anda besar sekali, anda akan tetap menambah konsumsi. Tetapi seberapa besar tambahan konsumsi ini akan semakin kecil dari waktu ke waktu. Artinya pada saat anda semakin kaya maka nilai MPC akan semakin kecil. Begitulah pandangan umum terkait hubungan pendapatan dan konsumsi, termasuk pandangan penulis. Hal seperti ini memang harus dibuktikan dengan riset juga.

 

 

Dari ilustrasi diatas kita telah melihat hubungan antara pendapatan, konsumsi dan tabungan. Salah satu pelajaran pentingnya mengenai kecondongan konsumsi (MPC) dan kecondongan menabung (MPS). Dalam ekonomi, terkait kecondongan ini dapat dirumuskan dengan:

MPC + MPS = 1                  …………….. (1)

APC + APS = 1                     …………….. (2)

MPC dan MPS terkait dengan kecondongan rata-rata, sedangkan APC dan APS terkait kecondongan rata-rata. Detailnya mengenai istilah-istilah ini baca pada tulisan kami yang lain pada web ini.

Baca selengkapnya: MPC, MPS, APC, APS

Mengapa dalam ekonomi mencapai kesimpulan hubungan kecondongan dengan 2 persamaan tersebut? Persamaan 1 dan 2 diatas dapat dibuktikan. Simak penjelasan dibawah ini:

Kita mengetahui bahwa pendapatan disposabel (pendapatan nasional) sama dengan konsumsi ditambah tabungan. Sehingga dirumuskan:

Yd = C + S                             …………….. (3)

Apa yang terjadi apabila persamaan 3 tersebut kita sama-sama bagi dengan Yd?

Yd / Yd   =  C / Yd      +   S/Yd

Perlu diketahui bahwa:

Yd / Yd  = 1

C / Yd  = APC      (ingat bahwa rumus APC adalah C/Yd)

S / Yd  = APS       (ingat bahwa rumus APS adalah S/Yd)

Sehingga:

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa benar yang tertulis pada persamaan 2 bahwa APC + APS = 1

 

Lantas bagaimana yang terjadi apabila terjadi perubahan pendapatan. Katakanlah terjadi kenaikan pendapatan. Bila pendapatan berubah, tentu konsumsi dan tabungan akan berubah juga. Hal ini dapat dirumuskan dengan:

ΔYd = ΔC + ΔS                    …………….. (4)

Apa yang terjadi apabila persamaan 4 tersebut kita sama-sama bagi dengan ΔYd?

ΔYd / ΔYd   =    ΔC / ΔYd      +    ΔS /  ΔYd

Perlu diketahui bahwa:

ΔYd / ΔYd  = 1

ΔC / ΔYd  = MPC                (ingat bahwa rumus MPC adalah ΔC/ΔYd)

ΔS / ΔYd  = MPS                (ingat bahwa rumus MPS adalah ΔS/ΔYd)

Sehingga:

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa benar yang tertulis pada persamaan 1 bahwa MPC + MPS = 1

Sampai dapat kita simpulkan bahwa benar apa yang dirumuskan persamaan 1 dan 2.

 

Sejauh ini penjelasan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan pada perekonomian 2 sektor dilakukan dengan pendekatan kurva. Pendekatan matematis juga dapat dipergunakan untuk menjelaskan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan pada perekonomian 2 sektor. Hubungan pendapatan, konsumsi dan tabungan bila dibuatkan dalam bentuk persamaan berikut:

  1. Persamaan fungsi konsumsi pada perekonomian dua sektor

C  = a + b Yd

Dari persamaan fungsi konsumsi tersebut dapat diketahui bahwa C merupakan tingkat konsumsi. a merupakan konsumsi rumah tangga pada kondisi pendapatan nasional sebesar 0. Adapun b merupakan kecondongan konsumsi marginal. Atau dengan kata lain b merupakan nilai MPC. Sedangkan nilai Yd merupakan pendapatan disposabel. Dalam perekonomian dua sektor, Y disamakan dengan Yd. Memang kondisi perekonomian 2 sektor Y dan Yd disamakan. Namun pada dengan lebih banyak pelaku ekonomi, Y dan Yd akan dibedakan.

 

  1. Persamaan fungsi tabungan pada perekonomian dua sektor

S = – a + (1-b) Yd

Dari fungsi tabungan tersebut dapat dijelaskan bahwa S merupakan tingkat tabungan. Sebagaimana diketahui bahwa MPC+MPS akan sama dengan 1. Dengan b merupakan MPC, dapat diketahui sebenarnya 1-b akan menunjukkan nilai MPS.

 

keseimbangan ekonomi 2 sektor

bagaimana perekonomian dua sektor mencapai keseimbangan? Pertanyaan seperti ini tidak akan pernah lepas dari pembahasan perekonomian dua sektor.

Keseimbangan perekonomian 2 sektor dapat tercapai dalam kondisi sebagaimana dirumuskan berikut:

Y = C + I                ………………… (5)

I = S                        ………………… (6)

Dimana Y adalah pendapatan nasional. Karena dalam kondisi perekonomian 2 sektor sehingga tidak ada sektor pemerintah. Dengan demikian tidak ada penarikan pajak. Sehingga pendapatan nasional akan sama dengan pendapatan disposabel. Adapun C adalah konsumsi, I adalah investasi, dan S adalah tabungan.

Persamaan 5 menggambarkan bahwa pendapatan nasional adalah fungsi dari konsumsi dan investasi. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa pendapatan akan digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan tabungan. Tabungan yang dilakukan akan disimpan pada bank dan bank menyalurkannya lagi sebagai pinjaman. Pinjaman yang dilakukan sektor perusahaan dipergunakan untuk kebutuhan investasi. Itulah mengapa pada persamaan kedua diperoleh persamaan investasi sama dengan tabungan. Dengan demikian persamaan 5 dapat juga ditulis sebagai pendapatan nasional adalah fungsi dari konsumsi ditambah investasi. Sisi pengeluaran agregat (C+I) akan sama dengan penawaran agregat (Y).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top