Teori Permintaan dan Penawaran Barang (Mekanisme Pasar)

By | June 19, 2020

Teori permintaan dan penawaran berkaitan erat dengan mekanisme pasar dalam ekonomi. Pada mekanisme pasar yang terjadi didunia ini akan ada permintaan dari konsumen (pembeli) dan juga ada penawaran (dijual) oleh penjual (produsen). Mekanisme pasar ini akan membicarakan bagaimana pasar bekerja.

Teori permintaan dan penawaran barang menjadi salah satu topik penting dalam ekonomi mikro. Teori permintaan dan penawaran membicarakan seberapa banyak jumlah barang atau jasa yang diminta (dibeli) oleh konsumen dan seberapa jumlah barang atau jasa yang ditawarkan (dijual) oleh produsen.

Untuk memahami mekanisme pasar yang terjadi pada permintaan konsumen dan penawaran dari produsen, maka pembahasan ini akan dijelaskan dalam tiga bagian yaitu:

1) Teori permintaan barang dan jasa;

2) Teori penawaran barang dan jasa.

3) Uraian ringkas harga keseimbangan (keseimbangan pasar)

 

Teori Permintaan Barang dan Jasa

Jumlah/Kuantitas barang yang diminta adalah jumlah suatu produk yang akan dibeli oleh rumah tangga dalam periode tertentu pada tingkat harga tertentu. jika ia dapat membeli semua yang diinginkan dengan harga pasar saat ini. Tentu saja, jumlah produk yang akhirnya dibeli rumah tangga tergantung pada jumlah produk yang sebenarnya tersedia di pasar.

Ungkapan, jika bisa membeli semua yang diinginkan, sangat penting dalam definisi jumlah/kuantitas yang diminta. Karena adanya kemungkinan jumlah yang ditawarkan dan jumlah yang diminta tidak sama.

Pada jumlah barang yang ingin diminta (dibeli) akan dipengaruhi oleh harga barang tersebut dipasar. Hubungan antara permintaan barang dengan harga barang tersebut digambarkan dalam hukum permintaan.

Hukum Permintaan Barang dan Jasa

Keterkaitan antara jumlah/kuantitas barang dan jasa yang diminta memiliki hubungan negatif dengan harga barang/jasa tersebut. Hukum permintaan barang dan jasa berbunyi:

Ketika harga naik, maka kuantitas yang diminta berkurang; namun dengan turunnya harga, maka kuantitas yang diminta meningkat.

Berdasarkan hukum permintaan barang dan jasa diatas dapat dipahami bahwa hubungan diantara permintaan barang dengan harga bersifat negatif. Arti disini kedua memiliki hubungan yang saling berlawan.

Hukum permintaan barang dan jasa memberikan penjelasan. Apabila suatu harga barang mengalami kenaikan, maka konsekuensinya yaitu akan terjadi penurunan permintaan (jumlah barang dan jasa) yang dibeli konsumen. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan harga barang maka permintaan barang meningkat jumlahnya.

Contoh Tabel Permintaan

Untuk dapat lebih memahami terkait teori permintaan barang dan jasa serta hukum permintaan, perhatikan contoh tabel permintaan dan kurvan permintaanya berikut ini:

Tabel permintaan bensin Jones:

Tabel Permintaan Bensin
Harga bensin

(per gallon)

Jumlah yang diminta

(Jumlah gallon per minggu)

8 0
7 2
6 3
5 5
4 7
3 10
2 14
1 10
0 16

Pada kasus ini akan dibuatkan contoh permintaan dari Jones. Contoh permintaan Jones atas bensin telah dibuatkan dalam bentuk tabel permintaan seperti diatas. Pada saat bensin seharga 8 dolar, permintaan bensin per minggu oleh Jones tidak ada atau nol. Begitu harga bensin turun menjadi 7 dolar, maka permintaan bensin Jones naik menjadi 2 galon perminggu, dan seterusnya.

Dari contoh permintaan barang (bensin) Jones diatas, apabila dibuatkan kurva permintaan maka akan tampak seperti pada kurva berikut:

Kurva permintaan bensin Jones

kurva-permintaan-dan-penawaran

 

Data dalam tabel permintaan dan kurvanya diatas menunjukkan bahwa dengan harga lebih murah, Jones membeli lebih banyak bensin. Dengan harga yang lebih tinggi, ia membeli lebih sedikit.

Perhatikan pada tabel maupun kurva permintaan tersebut, ketika harga bensin per gallon seharga 8 dolar, jumlah permintaan bensin oleh Jones sebesar nol. Namun sebaliknya, ketika harga bensin dijual 0 dolar per gallon, justru permintaan bensin oleh Jones sebanyak 26 galon bensin per minggu.

Dari contoh permintaan barang diatas sesuai dengan hukum permintaan barang dan jasa. Bahwa Ketika harga naik, kuantitas permintaan barang akan turun. Dan ketika harga turun, kuantitas yang diminta naik. Sehingga dalam teori permintaan barang ini ada hubungan negatif, atau terbalik, antara kuantitas permintaan barang dan harga barang itu sendiri.

Dengan demikian, kurva permintaan selalu miring ke bawah. Hubungan negatif antara harga dan kuantitas yang diminta sering disebut sebagai hukum permintaan. Istilah ini pertama kali digunakan oleh ekonom Alfred Marshall dalam buku pelajarannya tahun 1890.

Ketika kita ingin melakukan pembelian, kita biasanya hanya menghadapi satu harga dan berapa banyak yang akan kita beli dengan harga lain tidak relevan.

Namun, kurva permintaan membantu kita memahami perilaku yang cenderung ditunjukkan oleh rumah tangga. Jika rumah tangga (konsumen) benar-benar dihadapkan pada harga yang lebih tinggi atau lebih rendah. Misalnya jika kita menghadapi harga barang naik cukup drastis, jumlah permintaan barang pada akhirnya harus turun.

Hal ini sesuai dengan gambaran dalam kurva permintaan diatas. Oleh karenanya, dalam analisis ekonomi, adanya kurva permintaan adalah alat yang membantu kita menjelaskan perilaku ekonomi dan memprediksi reaksi terhadap kemungkinan perubahan harga.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan barang dan jasa

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan barang dan jasa apakah hanya harga barang saja? Uraian diatas kita hanya mengulas pengaruh harga terhadap permintaan barang. Masih ada variabel lain yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan barang dan jasa. Keputusan rumah tangga tentang berapa jumlah permintaan barang atau jasa (output), yang diminta bergantung pada faktor-faktor berikut:

  1. Faktor harga barang itu sendiri

Harga suatu barang sangat menentukan jumlah permintaan barang oleh konsumen. Hal ini sesuai dengan penjelasan diatas bahwa semakin mahal harga barang maka semakin sedikit permintaan barang. Pengaruh harga ini akan menyebabkan pergerakan disepanjang kurva permintaan.

  1. Faktor diluar harga barang itu sendiri

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan barang diluar harga, antara lain:

  • Pendapatan rumah tangga.

Pendapatan adalah total penerimaan yang didapat rumah tangga baik berupa gaji/upah, keuntungan bisnis, pembayaran bunga, pendapatan sewa dan berbagai bentuk penghasilan lainnya selama periode waktu tertentu.

Pendapatan rumah tangga menjadi cerminan atas daya beli yang dimiliki. Semakin besar pendapatan yang dimiliki seseorang berarti semakin besar kemampuannya untuk membeli barang atau jasa. Dengan demikian, semakin tinggi pendapatan yang dimiliki seseorang berarti semakin besar permintaan barang yang dilakukan.

  • Jumlah akumulasi kekayaan.

Kekayaan berarti total nilai kekayaan (harta benda) yang dimiliki rumah tangga dikurangi dengan utang yang dimiliki. Perbedaannya dengan pendapatan, misalkan anda berkarir selama 25 tahun dengan gaji bulanan 50 juta rupiah. Dan selama 25 tahun berkarir anda telah memiliki sebuah rumah dan mobil. Penghasilan merujuk pada pendapatan anda yang sebesar 50 juta perbulan. Sedangkan kekayaan merujuk pada semua apa yang anda miliki, termasuk rumah dan mobil yang anda punya.

Semakin besar kekayaan yang anda miliki, maka semakin besar daya beli yang anda miliki. Dengan kekayaan yang lebih besar berarti anda dapat membeli lebih banyak barang (permintaan barang lebih tinggi). Permintaan barang anda bisa saja lebih tinggi pendapatan anda, misalkan karena anda memiliki kekayaan yang jauh lebih besar sehingga permintaan barangnya meningkat.

  • Harga produk lain yang terkait

Permintaan barang juga dapat dipengaruhi oleh harga barang lain. Misalkan sebagai konsumen anda ingin membeli tempe sebagai lauk anda. Ingat ya, yang dianalisis yaitu permintaan akan tempe. Bayangkan bila ada pedagang yang menjual ayam semurah harga tempe. Masihkah anda ingin membeli tempe atau justru beralih membeli ayam?

Dengan posisi sama-sama dapat dijadikan lauk, anda bisa jadi akan beralih membeli ayam. Permintaan tempe menjadi berkurang karena pengaruh harga ayam tadi.

  • Selera dan preferensi rumah tangga.
  • Harapan/ekspektasi rumah tangga tentang pendapatan, kekayaan, dan harga di masa depan.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan barang dan jasa ini dapat memiliki pengaruh yang berbeda-beda. Adapun bagaimana perubahan perilaku rumah tangga menanggapi perubahan pada faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tersebut di jelaskan lebih mendalam pada tulisan lain.

Baca disini: Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan: pergerakan dan pergeseran kurva

Pada link artikel diatas akan memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan. Pendekatan penjelasannya akan menggunakan kurva permintaan. Faktor harga akan menyebabkan pergerakan disepanjang kurva permintaan. Sedangkan faktor selain harga menyebabkan pergeseran kurva permintaan.

Adapun penjelasan matematis dari faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan diatas dapat dituliskan dalam bentuk fungsi permintaan.

 

Teori Penawaran Barang dan Jasa

Teori penawaran barang adalah teori yang membicarakan jumlah penawaran barang yang ditawarkan perusahaan. Barang yang dibeli oleh konsumen, akan disediakan/ditawarkan oleh perusahaan/produsen. Pada bagian ini akan dibahas dari sisi produsen/perusahaan.

Jumlah/kuantitas penawaran barang adalah Jumlah produk tertentu yang akan tersedia dan dapat ditawarkan oleh perusahaan untuk dijual dengan harga tertentu selama periode waktu tertentu. Perilaku dari perusahaan didalam penawaran barang/jasa hasil produksi (output) akan tercermin dalam hukum penawaran.

Hukum Penawaran Barang dan Jasa

Hukum penawaran barang memiliki hubungan yang positif antara harga dan jumlah barang yang disediakan. Bunyi hukum penawaran barang dan jasa sebagai berikut:

Peningkatan harga pasar akan menyebabkan peningkatan jumlah yang ditawarkan. Dan penurunan harga pasar akan menyebabkan penurunan jumlah penawaran barang.

Dari hukum penawaran diatas telah tergambar hubungan positif antara harga barang dan jumlah barang yang ditawarkan produsen. Artinya bahwa hukum penawaran menggambarkan bila harga barang semakin tinggi, maka produsen akan semakin banyak menawarkan jumlah barang dan jasa (penawaran barang meningkat). Sebaliknya, semakin turun harga barang, maka penawaran barang oleh produsen akan semakin sedikit.

Contoh hukum penawaran

Untuk memahami lebih jelas hal diatas, berikut akan diberikan contoh hukum penawaran dalam bentuk tabel dan kurva. Disini akan diilustrasikan dalam bentuk penawaran pertanian kedelai dari Jones. Contoh hukum penawaran ini akan di berikan dalam bentuk tabel dan kurva sebagai berikut:

Tabel penawaran:

Pertanian Kedelai Jones
Harga

per gantang

Jumlah yang ditawarkan

(per gantang per tahun)

1,5 0
1,75 10.000
2,25 20.000
3 30.000
4 45.000
5 45.000

Pada saat harga barang 1,5 dolar pergantang kedelai, produsen (petani) tidak ada yang mau menjual kedelainya. Harga tersebut dianggap terlalu murah. Saat harga naik menjadi 1,75 dolar pergantang kedelai, maka penawaran kedelai oleh petani meningkat menjadi 10.000 gantang per tahun, begitu seterusnya.

Dari tabel penawaran diatas, bila dibuatkan dalam bentuk kurva penawaran akan terlihat seperti dibawah ini:

Kurva penawaran:

kurva-permintaan-dan-penawaran-barang

Mari kita lihat pasar pertanian sebagai contoh. Pada tabel merinci jumlah kedelai yang dapat dijual oleh petani yang bernama Jones pada berbagai harga. Jika pasar membayar $ 1,50 atau kurang untuk setiap gantang kedelai, Jones tidak akan menawarkan kedelai (tidak ada yang mau dijual).

Ketika petani Jones melihat biaya penanaman kedelai. Termasuk biaya peluang waktu dan tanahnya, $ 1,50 per gantang dianggap tidak akan mampu mengompensasi keuntungan atas biaya-biaya yang lebih tinggi tersebut.

Namun, dengan harga $ 1,75 per gantang, setidaknya beberapa produksi kedelai dapat dijual. Dan kenaikan harga dari $ 1,75 menjadi $ 2,25 per gantang, hal ini menyebabkan jumlah yang ditawarkan oleh Jones meningkat dari 10.000 menjadi 20.000 gantang per tahun.

Dengan demikian, semakin tinggi harga barang, maka akan semakin besar penawaran barang (kedelai) oleh produsen.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi penawaran Barang dan Jasa

Perusahaan membangun pabrik, merekrut pekerja, dan membeli bahan baku. Karena mereka yakin bisa menjual produk yang mereka hasilkan lebih dari biaya untuk memproduksinya. Dengan kata lain, perusahaan menawarkan barang dan jasa karena mereka percaya itu akan menguntungkan untuknya.

Keputusan penawaran dengan demikian tergantung pada potensi keuntungan. Karena laba adalah perbedaan antara pendapatan dan biaya. Penawaran cenderung bereaksi terhadap perubahan pendapatan dan perubahan biaya produksi. Jumlah pendapatan yang suatu perusahaan hasilkan tergantung pada berapa harga produknya di pasar dan berapa banyak menjualnya.

Biaya produksi tergantung pada banyak faktor, beberapa yang penting diantaranya:

  1. Jenisnya input yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk
  2. Jumlah setiap input yang diperlukan
  3. jumlah harga input

Selain dari uraian ringkas faktor yang mempengaruhi penawaran diatas, dapat juga didetailkan menjadi beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penawaran:

  1. Harga barang
  2. Harga barang lain yang terkait
  3. Harga faktor produksi
  4. Biaya produksi
  5. Teknologi produksi
  6. Jumlah pedagang/penjual
  7. Tujuan perusahaan
  8. Kebijakan pemerintah

Untuk dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran barang dan jasa, dan bagaimana perubahan perilakunya, akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.

Baca disini: Faktor-Faktor yang mempengaruhi penawaran barang dan jasa

Pada link artikel diatas akan mendetailkan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dengan pendekatan kurva. Adapun penjelasan secara matematis harus dibuat dalam bentuk fungsi penawaran.

 

Harga keseimbangan (keseimbangan pasar)

Titik temu antara permintaan dan penawaran sebagaimana yang dibahas diatas yaitu pada titik harga keseimbangan. Pada harga keseimbangan inilah dianggap sebagai keseimbangan pasar.

Kita mengatakan sebagai titik temu karena permintaan dan penawaran memiliki karakteristik yang berlawanan. Rumah tangga sebagai konsumen menginginkan harga barang yang semurah mungkin. Pada teori permintaan barang diatas dijelaskan bahwa semakin murah harga barang, maka permintaan barang akan meningkat.

Kebalikannya, produsen justru menginginkan harga semakin tinggi. Dengan harga yang semakin tinggi, produsen akan menjual lebih banyak. Produsen memiliki motif mendapatkan laba yang tinggi, sehingga semakin tinggi harganya semakin disukai.

Titik temu diantara kedua keinginan ini terjadi pada harga keseimbangan. Pada titik harga keseimbangan, konsumen sudah tidak ingin menambah atau mengurangi konsumsinya. Begitupula produsen, pada harga keseimbangan ini, produsen tidak ingin lagi menambah atau mengurangi penawaran barang.

Bila harga lebih murah dari harga keseimbangan, maka permintaan oleh konsumen akan meningkat. Namun disisi lain, produsen akan mengurangi penawaran barangnya karena lebih murah. Kondisi ini menjadikan kelebihan permintaan. Sebaliknya, bila harga lebih mahal dari harga keseimbangan akan menjadikan kelebihan penawaran.

Penjelasan lebih mendalam mengenai keseimbangan pasar ini akan dijelaskan pada tulisan lainnya. Tulisan selanjutnya akan menjelaskan harga keseimbangan (keseimbangan pasar) dengan pendekatan matematis dan kurva, serta bagaimana perubahan keseimbangan pasar.

Baca disini Keseimbangan pasar: Harga keseimbangan pasar

Sejauh ini kita telah membahas mengenai teori permintaan dan penawaran. Semoga dengan penjelasan teori permintaan, teori penawaran dan uraian singkat keseimbangan pasar tadi bermanfaat untuk kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *