Elastisitas: Pengertian, Cara Hitung, Jenis Elastisitas Permintaan dan Penawaran

Elastisitas adalah konsep dalam ekonomi yang membicarakan respon suatu variabel akibat perubahan pada variabel lain. Konsep elastisitas menjadi salah satu kunci penting dalam pembuatan keputusan yang dilakukan ekonom atau pengambil kebijakan. Pada pembahasan konsep elastisitas kita akan sedikit mengulas bagaimana pentingnya peran konsep elastisitas untuk kepentingan kebijakan.

Konsep elastisitas dalam ekonomi sebenarnya termasuk konsep umum. Oleh karenanya, penerapan konsep elastisitas dapat digunakan pada berbagai kasus. Pada pembahasan disini akan menguraikan lebih jauh tentang:

  1. Konsep elastisitas secara umum
  2. Jenis jenis elastisitas.

Jenis jenis elastisitas yang dibahas disini yaitu elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran. Elastisitas permintaan akan mencakup elastisitas harga, elastisitas harga dan elastisitas pendapatan.

 

Konsep dan Pengertian Elastisitas

Pengertian elastisitas adalah konsep umum yang digunakan untuk mengkuantifikasi tanggapan dalam satu variabel ketika variabel lain berubah. Elastisitas adalah bilangan yang menunjukkan berapa persen satu variabel akan berubah, akibat perubahan pada variabel lain sebesar satu persen. Elastisitas juga dikenal sebagai sensitivitas. Elastisitas menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi, dimana perubahan variabel dependen sebagai akibat dari adanya perubahan pada variabel independen.

Pada saat belajar mengenai teori permintaan dan penawaran, kita mempelajari arah perubahan jumlah permintaan yang terjadi apabila ada perubahan harga. Meskipun ada ilustrasi yang menggambarkan kenaikan harga sebesar X, permintaan akan sejumlah Y. Pada pembahasan permintaan dan penawaran, hal tersebut hanya sekedar ilustrasi semata. Inti yang kita pelajari pada topik tersebut yaitu arah perubahan. Ketika harga naik, arah permintaan menurun. Ketika harga naik, arah penawaran meningkat.

Pada pembahasan teori permintaan dan penawaran terdahulu, kita tidak benar-benar mempelajari seberapa besar perubahan jumlah permintaan akibat perubahan harga. Misalkan harga barang X naik 5%, apakah jumlah permintaan turun sebesar 5%? Atau permintaan Cuma turun 1%? Atau bahkan perminaan justru turun 20%? Hal tersebut tidak dibahas sebelumnya.

Pada tingkatan pembuatan keputusan, kita tidak Cuma hanya sekedar tahu bahwa kenaikan harga akan menurunkan permintaan, atau menaikkan penawaran. Harus ada konsep lebih jauh untuk menjelaskan respon suatu variabel (katakanlah permintaan) akibat perubahan dari variabel lain (dalam kasus diatas kita contohkan harga barang). Disinilah kita memerlukan konsep elastisitas untuk membantu melihat lebih dalam dan lebih persis untuk mengetahui tanggapan satu variabel akibat perubahan variabel lain.

 

Cara Menghitung Elastisitas

Karena elastisitas merupakan konsep umum yang dapat digunakan dalam berbagai kasus, disini menjelaskan terlebih dahulu rumus cara menghitung elastisitas secara umum. Rumus perhitungan elastisitas secara spesifik akan dijelaskan pada sub bagian elastisitas sesuai jenisnya.

Secara umum, rumus cara menghitung elastisitas dapat dibuat sebagai berikut:

Elastisitas A terhadap B = % Δ A / % Δ B

Konsep dasar elastisitas menjelaskan bahwa elastisitas variabel A terhadap B merupakan persentase perubahan variabel A dibagi dengan persentase perubahan variabel B. Dari sini patut dipahami bahwa elastisitas membicarakan rasio dari perubahan.

Perlu dipertegas bahwa elastisitas menggunakan rasio perubahan bukan menggunakan slope. Slope misalkan dari kurva permintaan anda bisa melihat slopenya. Slope biasanya dihitung dengan  Δ Y / Δ X. Pada slope anda hanya akan menggunakan perubahan. Hal tersebut tidak terlalu bermanfaat untuk menggambarkan respon. Oleh karenanya perhitungan elastisitas tidak sama dengan slope kurva.

Pada perhitungan elastisitas agar dapat menggambarkan respon perubahan suatu variabel akibat perubahan variabel lain maka digunakan persentase dari perubahan. Oleh karenanya pada rumus digunakan persentase perubahan. Pada pengertian elastisitas juga kita menegaskan bahwa elastisitas menggambarkan persentase perubahan satu variabel akibat perubahan satu persen variabel lain.

 

Jenis-Jenis Elastisitas

Jenis jenis elastisitas yang dibahas disini yaitu elastisitas permintaan dan penawaran. Elastisitas permintaan akan mencakup elastisitas harga, silang dan pendapatan.

ELASTISITAS PERMINTAAN

Elastisitas permintaan adalah elastisitas yang mengukur perubahan relatif dalam jumlah unit barang yang dibeli sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya (dengan asumsi ceteris paribus). Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi permintaan diantaranya yaitu harga barang itu sendiri, harga barang lain, dan pendapatan. Pada kasus elastisitas, ketiga faktor tersebut juga mempengaruhi elastisitas permintaan.

Sehingga pada elastisitas permintaan ini dapat dibedakan menjadi 3. Elastisitas harga yang terkait pengaruh harga barang itu sendiri terhadap permintaan. Elastisitas ini disebut juga dengan elastisitas harga dari permintaan. Kedua, elastisitas silang yaitu elastisitas yang terkait pengaruh harga barang lain atas permintaan. Dan elastisitas pendapatan yang terkait pengaruh dari pendapatan atas permintaan.

1. ELASTISITAS HARGA dari Permintaan

Elastisitas harga adalah elastisitas yang mengukur berapa persen permintaan terhadap suatu barang berubah bila harganya berubah sebesar satu persen. Adapun rumus cara menghitung elastisitas harga yaitu:

Persamaan rumus elastisitas harga

Penting untuk memperhatikan hasil dari nilai elastisitas harga. Karena nilai elastisitas harga selalu negatif. Untuk nilai dari elastisitas harga ini perlu untuk di absolutkan, dalam artian agar nilai elastisitasnya menjadi positif. Sehingga dapat menginterpretasikan hasilnya lebih tepat.

Pada teori permintaan barang dan jasa, hubungan dari harga barang dan jumlah barang yang diminta adalah berbanding terbalik. Ketika harga barang naik maka jumlah yang dibeli akan berkurang. Sehingga pada elastisitas ini nilainya harus di absolutkan.

Dalam menginterpretasikan nilai elastisitas harga juga perlu hati-hati. Sebagai contoh nilai Ep = 3 menunjukkan bahwa bila harga naik sebesar satu persen, permintaan barang turun sebesar tiga persen. Dalam interpretasi nilai elastisitas harga, jangan lupakan hukum permintaan karena disini yang dibicarakan mengenai elastisitas harga dari permintaan.

Untuk menginterpretasikan hasil elastisitas harga, perhatikan kriteria angka elastisitas harga berikut:

  • Inelastis (Ep < 1)

Inelastis menunjukkan bahwa persentase perubahan harga lebih besar daripada persentase perubahan permintaan barang. Contoh Inelastis adalah umumnya terjadi pada kebutuhan pokok. Misalkan terjadi kenaikan harga beras sebesar 5%, permintaan beras dianggap turun sebesar 1%. Disini nilai elastisitas harga (Ep) yaitu sebesar 0,2 yang berarti jenisnya inelastis. Persentase perubahan jumlah permintaan lebih kecil dari persentase perubahan harga barang.

  • Elastis (Ep > 1)

Nilai elastisitas yang terkategori elastis adalah nilai elastisitas yang lebih dari 1. Artinya bahwa persentase perubahan harga akan mengakibatkan perubahan persentase jumlah permintaan yang lebih besar. Bila terjadi kenaikan harga barang sebesar 1%, maka akan membuat jumlah permintaan barang turun lebih dari 1%. Karena nilai elastisitasnya lebih dari 1. Contoh barang yang bersifat elastis umumnya pada barang mewah seperti mobil.

  • Elastis Unitari (Ep=1)

Elastis unitary menggambarkan persentase perubahan harga sama besarnya dengan persentase perubahan permintaan barang. Bila harga naik 2% maka penurunan jumlah permintaan barang sebesar 2%.

  • Inelastis Sempurna (Ep=0)

Inelastis sempurna terjadi bila perubahan harga tidak mempengaruhi sama sekali jumlah permintaan barang. Orang-orang akan tetap membeli sesuai jumlah kebutuhannya. Contoh kasus yang bisa dianggap dekat dengan inelastis sempurna yaitu pada permintaan garam. Berapapun harga garam, orang-orang akan membeli garam hanya sesuai kebutuhannya.

  • Elastis tak terhingga (Ep = ∞)

Perubahan harga sedikit saja akan menyebabkan perubahan permintaan barang dalam jumlah yang tak terbatas.

 

2. Elastisitas Silang

Elastisitas silang harga dari permintaan adalah elastisitas yang mengukur persentase perubahan permintaan barang sebagai akibat dari terjadinya perubahan harga barang lain sebesar 1%.  Adapun untuk menghitung elastisitas silang (Ec) dapat dirumuskan sebagai berikut:

Persamaan rumus elastisitas silang

Nilai dari elastisitas silang (Ec) mencerminkan hubungan diantara barang X dan Y.

Bila terjadi nilai Ec > 0, maka X merupakan substitusi dari Y. Jika terjadi kenaikan harga barang Y maka secara relatif harga X akan semakin murah sehingga terjadi peningkatan permintaan barang X. Misalkan antara daging ayam dan daging sapi, bila harga daging ayam naik, maka permintaan daging sapi meningkat. Daging sapi disini dianggap substitusi dari daging ayam.

Bila terjadi nilai Ec < 0 menunjukkan hubungan diantara barang X dan Y bersifat komplementer. Dalam kasus ini X hanya dapat digunakan secara bersama-sama dengan Y. Penambahan ataupun pengurangan pada barang Y maka harus menyebabkan penambahan ataupun pengurangan juga pada barang X. Misalnya harga BBM naik, diduga bahwa permintaan atas mobil menurun. Mobil hanya dapat digunakan bila ada BBM, artinya bersifat komplementer (saling melengkapi). Dengan mahalnya BBM tentu penggunaan mobil berkurang.

 

3. Elastisitas Pendapatan dari permintaan

Elastisitas pendapatan adalah elastisitas yang mengukur berapa persen perubahan permintaan suatu barang apabila terjadi kenaikan pendapatan sebesar satu persen. Elastisitas pendapatan dapat dirumuskan berikut:

Persamaan rumus elastisitas pendapatan

Pada umumnya nilai dari elastisitas pendapatan akan bernilai positif, karena kenaikan pendapatan riil akan meningkatkan permintaan barang. Berdasarkan pada teori permintaan barang dan jasa, salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah barang yang dibeli yaitu pendapatan. Dengan pendapatan yang semakin tinggi akan mendorong permintaan semakin tinggi pula. Sehingga elastisitasnya positif pada umumnya. Namun hal ini bergantung kembali pada jenis barang yang dibeli.

  • Barang dengan nilai Elastisitas pendapatan lebih besar dari nol merupakan barang normal. Bila terjadi kenaikan pendapatan akan menyebabkan terjadinya kenaikan permintaan barang.
  • Barang dengan nilai elastisitas pendapatan (Ei) diantara 0 sampai 1 pada umumnya merupakan jenis barang kebutuhan pokok.
  • Barang dengan nilai elastisitas pendapatan (Ei) lebih besar dari 1 merupakan barang mewah.
  • Barang dengan nilai elastisitas pendapatan (Ei) kurang dari 0 pada umumnya terjadi pada barang inferior (barang dengan kualitas rendah). Pada jenis barang inferior, apabila terjadi kenaikan pendapatan maka permintaan barang tersebut menurun. Hal ini karena dengan kenaikan pendapatan orang-orang akan mengurangi konsumsi barang dengan kualitas rendah dan beralih pada barang dengan kualitas lebih baik.

 

ELASTISITAS PENAWARAN

Elastisitas penawaran ini dapat dianalogikan dengan logika yang mirip pada elastisitas permintaan. Elastisitas penawaran adalah angka yang menunjukkan berapa persen jumlah barang yang ditawarkan berubah, bila terjadi perubahan harga barang sebesar satu persen. Sehingga elastisitas penawaran akan menggambarkan respon jumlah penawaran akibat perubahan perubahan harga.

Untuk menghitung nilai elastisitas penawaran dapat digunakan rumus berikut:

Persamaan rumus elastisitas penawaran

Pada rumus cara menghitung elastisitas penawaran diatas, kita melihat adanya hubungan antara harga barang dengan penawaran barang. Bila kita kembali pada faktor yang mempengaruhi jumlah penawaran salah satunya yaitu harga barang. Hubungan harga barang dan penawaran seperti digambarkan hukum penawaran bahwa semakin tinggi harga barang akan mendorong peningkatan penawaran. Oleh karena itu, elastisitas penawaran umumnya akan selalu bernilai positif.

Dari nilai elastisitas penawaran ini dapat mengukur seberapa mudah produsen merespon atas perubahan harga. Dalam beberapa industry, begitu terjadi kenaikan harga akan cepat direspon oleh produsen dengan meningkat jumlah penawaran barang. Namun pada industry berbeda seperti pada industry minyak terkadang bersifat inelastic atau respon perubahannya tidak sebesar persentase perubahan harga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top