Teori produksi: Isoquant dan isocost

Teori produksi ini mempelajari kaitan penggunaan input (faktor produksi) dengan output (hasil) dari proses produksi. Konsep isocost dan isoquant menjadi bagian penting dalam pembahasan ini. Pada pembahasan sebelumnya mengenai teori perilaku produsen, kita mencoba melihat produksi dengan menggunakan satu input variabel berupa tenaga kerja yang terjadi dalam jangka pendek.

Kali ini kita akan membahas teori produksi dengan menggunakan dua faktor produksi. Sebagaimana yang telah disebutkan pada artikel teori perilaku produsen, terdapat dua faktor produksi yang mempengaruhi hasil produksi. Keduanya yaitu tenaga kerja dan modal. Sebelumnya kita hanya mengasumsikan tenaga kerja sebagai input variabel. Pada pembahasan teori produksi kali ini kita akan mengganggap bahwa modal dan tenaga kerja sebagai input variabel.

Sebaiknya teman-teman juga membaca pembahasan sebelumnya mengenai teori perilaku produsen. Karena tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan tersebut agar tidak menimbulkan kebingungan. Beberapa isi pembahasan ini masih terkait dengan pembahasan tersebut.

Proses produksi sebenarnya kompleks dan dapat menggunakan lebih dari dua faktor produksi. Namun, dalam tulisan ini kita ingin menyederhanakan agar mudah dipahami. Bila konsep dasar ini dipahami maka akan mudah memahami yang lebih kompleks. Untuk penggunaan faktor produksi yang banyak biasanya akan dilakukan pemodelan pada pembahasan ekonomi tingkat lanjut semisal dengan menggunakan ekonometrika.

Bagaimana hubungan dari penggunaan dua input variabel dengan output yang dihasilkan? Untuk menjelaskan hal tersebut, ada dua istilah yang harus dipelajari dalam teori produksi yaitu konsep isoquant dan isocost. Kedua istilah tersebut memberikan gambaran teori bagaimana perilaku produsen dalam melakukan produksi.

 

Isoquant (isokuan)

Pengertian isokuan / isoquant adalah kurva yang memberikan tingkat output produksi yang sama untuk berbagai kombinasi penggunaan dua input variabel. Tenaga kerja dan modal bertindak sebagai input variabel yang artinya jumlah penggunaannya dapat berubah (bertambah atau berkurang). Dengan demikian, produsen dapat menggunakan lebih banyak mesin (modal) atau mungkin sebaliknya lebih banyak tenaga kerja. Namun konsep isoquant menggambarkan bagaimanapun kombinasi keduanya tetap hasil output yang diproduksi sama.

Misalkan teman-teman ingin membuat 100 kue. Teman-teman membutuhkan mesin (modal) dan tenaga kerja. Katakanlah teman-teman untuk menghasilkan 100 kue dapat menggunakan 1 mesin dan 18 tenaga kerja. Tapi bisa juga teman-teman menggunakan 5 mesin dan 10 tenaga kerja untuk menghasilkan 100 kue. Jadi, konsep isoquant disini yaitu output yang dihasilkan sama-sama 100 kue meskipun teman-teman bebas memilih dari berbagai kombinasi pilihan penggunaan tenaga kerja dan mesin.

Untuk lebih jelas memahami, perhatikan kurva isoquant / isokuan berikut:

Teori produksi - kurva isoquant - isokuan
Kurva isoquant

Pada gambar diatas kita dapat melihat kurva isokuan / isoquant dengan sumbu Y berupa modal dan sumbu X berupa tenaga kerja. Kurva isokuan (Z) menggambarkan tingkat output produksi yang sama. Artinya ketika produksi di sepanjang garis tersebut akan sama outputnya, namun input yang digunakan memiliki komposisi yang berbeda.

Misalkan pada titik A, titik B, maupun titik C memiliki tingkat hasil produksi yang sama. Bila kita misalkan outputnya 100 roti, maka titik A, B, C sama-sama menghasilkan 100 roti. Meskipun demikian, komposisi input yang digunakan berbeda. Ada yang lebih banyak tenaga kerja, ada yang lebih banyak mesin (modal). Itulah yang ingin digambarkan dalam kurva isoquant.

Pada titik A, untuk menghasilkan output sejumlah Z, maka diperlukan tenaga kerja sebanyak X1 dan modal sebanyak Y1.  Pada titik ini perusahaan teman-teman memilih lebih banyak menggunakan modal. Penggunaan modal maksudnya disini, bisa saja modal yang perusahaan teman-teman itu dipergunakan untuk membeli mesin. Makanya modal atau mesin sering saya tulis bersama. Kondisi ini disebut dengan capital intensive.

Pada titik B, perusahaan teman-teman sedikt mengurangi penggunaan modal dan sedikit menambah penggunaan tenaga kerja. Pilihan seperti ini bisa saja dilakukan. Output produksi yang dihasilkan sama yaitu sebesar Z. Keadaan ini sering digambarkan sebagai kondisi netral bila seimbangan antara penggunaan mesin dan tenaga kerja.

Pilihan terakhir yang diilustrasikan kurva isoquant diatas yaitu pada titik C. Dalam kondisi ini perusahaan teman-teman memilih untuk menggunakan lebih banyak tenaga kerja yaitu sebesar X3 dan mengurangi penggunaan mesin menjadi Y3. Output yang dihasilkan tetap sebanyak Z. Kondisi ini disebut sebagai labour intensive karena lebih banyak menggunakan input produksi berupa tenaga kerja.

 

Skala produksi

Diatas kita telah membahas satu isoquant saja. Bagaimana bila kurva isoquant berubah menjadi lebih tinggi misalkan? Dalam ekonomi ada yang kita kenal dengan skala produksi. Dengan skala produksi kita melihat kurva isoquant berubah lebih tinggi. Untuk lebih jelas perhatikan kurva berikut:

Anggap saja skala produksi perusahaan teman-teman saat ini berada pada kurva isoquant = Q. Karena ingin mengembangkan bisnis lebih besar, teman-teman menambah skala produksinya. Skala produksi disini membicarakan perubahan output akibat perubahan skala penggunaan input. Bila teman-teman menambahkan input baik tenaga kerja maupun mesin, maka kurva isoquant dapat bergeser dari Q menuju Q2 bahkan mencapi Q3.

Pertanyaannya bila teman-teman menggandakan input (tenaga kerja dan mesin) menjadi dua kali lipat, apakah output yang dihasilkan menjadi dua kali lipatnya?

Jawabannya belum tentu, tergantung pada skala produksi. Ada 3 kemungkinan skala produksi yang dapat tercipta:

  1. Increase return to scale (Skala hasil naik). Dimana penambahan input menghasilkan penambahan output yang lebih besar. Misalkan teman-teman menaikkan input berupa tenaga kerja dan mesinnya menjadi dua kali lipat, dan ternyata output yang dihasilkan lebih dari dua kali lipat. Artinya produksinya memberikan increase return to scale
  2. Constant return to scale (skala hasil konstan). Pada skala hasil konstan ini penambahan input memberikan tambahan output yang sama. Misalkan input dinaikkan dua kali lipat, maka output juga meningkat dua kali lipat
  3. Decrese return to scale (skala hasil menurun). Penambahan input memberikan penambahan output yang lebih kecil. Misalkan input dinaikkan dua kali lipat, ternyata output yang dihasilkan kurang dari dua kali lipat.

Dengan demikian, skala produksi dari masing-masing produsen berbeda. Tergantung pada skala mana yang terjadi pada perusahaan tersebut.

 

Isocost

Isocost adalah kurva anggaran produksi yang mencerminkan kombinasi dari dua input (faktor produksi) yang mempunyai biaya yang sama. Misalkan untuk produksi menggunakan input tenaga kerja sebanyak X1 dan mesin sebanyak Y1, memiliki biaya yang sama bila menggunakan komposisi tenaga kerja sebanyak X2 dan mesin sebanyak Y2.

Konsep isocost disini yang perlu digaris bawahi adalah biaya dari penggunaan dua faktor produksi tersebut mempunyai biaya yang sama. Kalau pada isoquant merujuk pada output yang sama, meskipun biaya pengunaan inputnya bisa saja tidak sama. Sebaliknya, pada isocost yang ditekankan adalah penggunaan dua faktor produksi tersebut memberikan biaya yang sama, meskipun output yang dihasilkan belum tentu sama.

Perhatikanlah kurva anggaran produksi (isocost) berikut:

Teori produksi - Kurva Anggaran Produksi - kurva Isocost
Kurva Isocost

Pada kurva isocost diatas kita melihat garis-garis miring. Garis-garis diatas merupakan garis kurva isocost. Garis kurva isocost adalah garis anggaran yang menggambarkan biaya untuk kombinasi penggunaan dua jenis input. Sehingga kemiringan garis kurva isocost (I) diatas menggambarkan rasio penggunaan biaya untuk kombinasi menggunakan dua jenis input produksi.

Perhatikanlah gambar A. Misalkan kita melihat kurva isocost I1, artinya garis tersebut menggambarkan kombinasi penggunaan input berupa mesin dan tenaga kerja yang mempunyai biaya/anggaran yang sama. Pada gambar diatas, I1, I2, I3 bukan menggambarkan sumbu tenaga kerja, tapi I diatas merupakan symbol untuk garis isocost yang berbentuk miring. Kemiringan kurva isocost ini bergantung pada kombinasi tenaga kerja dan modal.

Pada gambar A digambarkan adanya perubahan garis isocost (I). Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan harga input. Kurva isocost pada gambar A terjadi penurunan biaya input. Perubahan kemiringan kurva isocost pada bagian tenaga kerja dari I1 ke I2, menunjukkan bahwa perubahan tersebut mendorong penggunaan tenaga kerja lebih banyak. Anggap saja harga tenaga kerja (upah) lebih murah sehingga jumlah tenaga kerja ditambah. Begitu pula yang ditunjukkan pada I3.

Pada gambar B terlihat ada 3 kurva isocost yaitu I1, I2, I3. Pada gambar ini diilustrasikan terjadi perubahan kemampuan anggaran. Misalkan kurva anggaran isocost pada I1. Lalu terjadi penambahan kemampuan anggaran, misalkan perusahaan menambah dana (investasi), sehingga anggaran yang dapat digunakan untuk membeli mesin (modal) dan atau mengupah tenaga kerja bertambah. Pergeseran kurva isocostnya akan terjadi dari I1 ke I2. Bila anggaran perusahaan ditambah lagi maka garis isocost akan berubah ke I3.

 

Sekian pembahasan mengenai teori produksi singkat ini. Pada kesempatan ini kita telah pelajari teori produksi yang terkait isoquant dan isocost. Selanjutnya pembahasan ini akan dilanjut dengan teori keseimbangan produksi pada tulisan berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top