Cara menghitung PDB

Pada pembahasan mengenai cara menghitung PDB dalam kesempatan ini akan dibuat dalam 3 bagian. Syarat agar memahami cara menghitung PDB ini, seharusnya kita sudah harus paham terlebih dahulu dengan konsep PDB itu sendiri. Penjelasan singkat tentang PDB akan diberikan pada bagian overview.

Pembahasan cara menghitung PDB ini akan disusun dalam 3 bagian berikut:

  • Rumus menghitung pdb dan Overview
  • Contoh dan cara menghitung PDB nominal
  • Contoh dan cara menghitung PDB riil

 

Overview dan Rumus menghitung PDB

Sebelum membahas rumus dan cara menghitung PDB, kita akan mulai dengan sedikit overview tentang PDB.  PDB adalah singkatan dari Produk Domestik Bruto. Dalam bahasa Inggris dikatakan dengan Gross Domestik Bruto (GDP). Sehingga ketika menemukan singkatan PDB ataupun GDP dalam literature ekonomi berbahasa Indonesia, sejatinya hal tersebut membahas hal yang sama.

PDB adalah nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu wilayah dalam suatu jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Pengertian lainnya dari PDB adalan nilai output akhir yang dihasilkan dalam perekonomian suatu negara dalam satu periode tertentu. Bisa juga dipahami bahwa PDB adalah jumlah nilai tambah output yang diproduksi.

Baca selengkapnya: PDB, PDRB, dan Pertumbuhan Ekonomi

Perlu dipahami bahwa pendekatan untuk mengitung PDB tidak hanya satu. Terdapat 3 pendekatan/cara perhitungan PDB yaitu:

  1. Cara perhitungan PDB dengan pendekatan produksi
  2. Cara perhitungan PDB dengan pendekatan pengeluaran
  3. Cara perhitungan PDB dengan pendekatan pendapatan

Secara konsep, ketiga pendekatan untuk menghitung PDB diatas seharusnya memberikan hasil yang sama. Pada prakteknya, ketiga perhitungan diatas mempunyai sedikit perbedaan nilai. Hal ini disebabkan karena adanya faktor perbedaan cara perhitungan. Persoalan ini terkait dengan persoalan statistik saja.

Karena ada beberapa pendekatan, maka rumus menghitung PDB juga terdapat beberapa model sesuai dengan pendekatan perhitungannya.

Pendekatan Produksi

Rumus menghitung PDB dengan pendekatan produksi pada dasarnya dapat dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah yang dihasilkan oleh setiap sektor atau bisa juga dengan menghitung nilai penjualan akhir. Perlu diingat bahwa yang dihitung adala nilai penjualan akhir bukan total penjualan dalam ekonomi. Karena bila menjumlahkan total penjualan dapat menyebabkan perhitungan ganda. Oleh karenanya ada pilihan rumus menghitung PDB dengan pendekatan produksi melalui pendekatan nilai tambah yang dihasilkan oleh setiap sektor.

Pendekatan pengeluaran

Rumus menghitung PDB dengan pendekatan pengeluaran yaitu dengan persamaan identitas berikut:

PDB =  C + I + G + (X-M)

Dari pendekatan pengeluaran ini dapat dipahami bahwa perhitungan PDB dengan pendekatan pengeluaran dilakukan dengan mengakumulasikan konsumsi (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G) dan ekspor neto (X-M) yang ada dalam suatu Negara. Ekspor neto disini merupakan pengurangan antara ekspor (X) dikurangi dengan Impor (M).

Beberapa penjelasan mengenai komponen tersebut dapat dibaca disini:

Baca: Investasi

Baca: Konsumsi

 

Pendekatan Pendapatan

Adapun menurut Case, Fair, Oster bahwa rumus menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan yaitu jumlah pendapatan nasional yang dihitung dari 8 item. Adapun ke 8 komponen perhitungan PDB pendekatan pendapatan terdiri dari:

  1. Kompensasi tenaga kerja
  2. Pendapatan yang tidak termasuk dalam bisnis
  3. Pendapatan sewa
  4. Keuntungan Korporasi/Bisnis
  5. Bunga Neto
  6. Pajak tidak langsung dikurangi subsidi
  7. Pembayaran transfer bisnis Neto
  8. Suplus bisnis pemerinth

 

Contoh dan cara menghitung PDB dengan pendekatan produksi

Pada kesempatan ini kita akan membuat sebuah ilustrasi hipotetikal mengenai contoh cara menghitung PDB denan pendekatan produksi. Kita akan membuat contoh hipotetikal pada kasus minyak. Contoh ini hanya karangan, intinya semoga dapat memberikan gambaran pemahaman cara menghitung PDB.

Perhatikan tabel contoh cara menghitung PDB dengan nilai tambah berikut ini:

Sektor ProduksiNilai penjualan (harga penjualan)Nilai tambah
Pengeboran minyak1.0001.000
Penyulingan2.0001.000
Pengapalan2.750750
Penjualan Ritel4.5001.750
Total Nilai tambah 4.500

 

Pada tabel diatas kita dapat melihat kolom sektor produksi, nilai penjualan, dan nilai tambah. Pada kolom sektor produksi, kita menggambarkan proses produksi dan penjualan dari minyak. Tabel diatas Cuma fiktif, meski ilustrasi ini tidak nyata, yang ingin kita pelajari adalah bagaimana cara menghitung PDB nya.

Awalnya minyak dilakukan pengeboran. Harga minyak hasil pengeboran ini yaitu sebesar 1.000 rupiah. Lalu minyak tersebut dilakukan penyulingan. Adapun harga minyak hasil penyulingan ini yaitu sebesar 2.000 rupiah. Selanjutnya minyak hasil penyulingan ini dilakukan pengapalan untuk membawanya dari tempat penyulingan ke tempat penjualan. Setelah pengapalan ini harga minyak menjadi 2.750 rupiah. Setelah dijual secara ritel harga minyak ternyata menjadi 4.500 rupiah. Perhitungan harga penjualan pada berbagai sektor tersebut anggap saja harga jual yang sudah memperhitungkan biaya produksi dan profitnya.

Baca juga: Biaya produksi

Baca juga: Profit

Pada kolom terakhir terdapat kolom nilai tambah. Kolom nilai tambah menunjukkan perubahan (pada kasus diatas terjadi kenaikan) nilai barang dari sektor yang satu ke sektor yang lain. Misalkan pada baris penyulingan didapatkan bahwa nilai tambah yang tercipta pada sektor penyulingan yaitu 1000 rupiah. Nilai tersebut adalah tambahan nilai yang tercipta pada sektor penyulingan. Harga pada sektor penyulingan dikurangi harga pada sektor pengeboran. Karena pada nilai tambah ini hanya melihat keniakan nilai yang terjadi.

Bila anda membaca tentang topik PDB nominal dan PDB riil, disana dijelaskan bahwa perhitungan PDB dilihat dari nilai uangnya, bukan satuan berat barangnya. Makanya perhitungan minyak diatas berdasarkan nilai uangnya bukan satuan berat/volume minyaknya.

Lantas dari contoh tabel diatas, berapakah nilai PDB nya?

PDB adalah total output yang tercipta dalam perekonomian tersebut. Namun, bila anda menghitung PDB dengan cara menjumlahkan kolom nilai penjualan, maka anda melakukan kesalahan. Karena pada saat itu anda melakukan double counting (perhitungan ganda). Contohnya saja, anda menjumlahkan nilai penjualan pada sektor pengeboran ditambah penjualan sektor penyulingan dan ditambah sektor perkapalan dan ditambah sektor penjualan ritel. Pada nilai penjualan sektor penyulingan sejatinya sudah ada nilai dari sektor pengeboran didalamnya, bila ditambah dengan sektor pengeboran lagi maka terjadi perhitungan ganda. Begitu seterusnya bila anda menjumlahkan nilai penjualan dari semua sektor, disitu terjadi double counting.

Agar tidak terjadi double counting, maka yang diambil sebagai nilai PDB adalah nilai penjualan barang akhir. Dari proses produksi hingga penjualan minyak diatas, yang menjadi barang akhir adalah penjualan minyak secara ritel. Cara menghitung nilai PDB nya cukup dengan mengambil nilai dari barang akhir pada sektor penjualan ritel. Itulah nilai PDB nya yaitu sebesar 4500 rupiah.

Menentukan apakah barang itu termasuk barang akhir atau bukan sejatinya cukup sulit. Misalnya, minyak bukan hanya dijual eceran sebagai minyak. Minyak nantinya bisa jadi sumber bahan bakar, apakah untuk kendaraan atau untuk mesin. Ambil contoh mesin di sektor pertanian atau industry. Jadinya minyak tadi bisa menjadi input antara bagi sektor-sektor lain. Karena hasil produksi dari satu sektor dapat menjadi input antara bagi sektor lain, menghitung PDB dengan cara nilai akhir barang kadang kala menjadi sulit. Oleh karena itu alternative yang dilakukan adalah dengan menghitung nilai tambahnya (value added).

Biasanya perhitungan PDB pada kenyataannya akan menggunakan metode nilai tambah. Contoh menghitung nilai tambah telah dijelaskan diatas. Dengan menghitung nilai tambah anda bisa tahu kenaikan nilai yang tercipta pada setiap sektor. Cara ini lebih gampang untuk menghitung PDB. Cara menghitung PDB nya nanti tinggal menjumlahkan semua nilai tambah yang tercipta dari semua sektor. Total nilai tambah yang tercipta dari semua sektor inilah nantinya yang akan menjadi nilai PDB. Pada contoh diatas, total nilai tambah yang tercipta dari semua sektor yaitu sebesar 4500. Itulah nilai PDB nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top