Penawaran tenaga kerja

Penawaran tenaga kerja

Penawaran tenaga kerja adalah salah satu pembahasan ekonomi mengenai bagaimana faktor produksi berupa tenaga kerja ditawarkan. Penawaran tenaga kerja ini membicarakan pilihan untuk bekerja bagi seseorang dalam populasi.

 

Keputusan Rumah Tangga dalam Penawaran Tenaga Kerja

Rumah tangga sebagai unit pembuat keputusan dalam ekonomi, sebenarnya mempunyai dua sisi keputusan. Pertama dari sisi konsumsi, rumah tangga menentukan seberapa banyak yang harus di konsumsi. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan mengenai perilaku konsumsi, teori perilaku konsumen, dan teori permintaan. Kedua, keputusan mengenai pekerjaan. Untuk dapat melakukan konsumsi, rumah tangga menghadapi kendala anggaran yang berasal dari pendapatan. Untuk mendapatkan pendapatan, rumah tangga harus bekerja.

Dalam hal keputusan ingin bekerja (penawaran tenaga kerja), rumah tangga harus membuat keputusan mengenai:

  1. Apakah harus bekerja atau tidak
  2. Berapa banyak/lama harus bekerja
  3. Jenis pekerjaan apa yang harus dipilih

Kita sebagai manusia akan membutuhkan pekerjaan dan waktu luang. Tidak semua orang lahir dengan latar belakang kaya melimpah yang tidak perlu memikirkan soal duit. Pekerjaan diperlukan untuk memperoleh uang. Selain itu, kita juga membutuhkan waktu luang untuk dinikmati. Orang super kaya mungkin hanya memerlukan waktu luang karena sudah banyak uang. Sayangnya, kita mungkin bukan yang termasuk super kaya tersebut. Sehingga membutuhkan pekerjaan. Dalam posisi ini kita harus memutuskan apakah harus bekerja atau tidak.

Permasalahan waktu luang (leisure) dan bekerja pasti akan menimbulkan pertentangan. Ketika kita memilih untuk menggunakan semua waktu kita sebagai waktu luang, maka saat itu kita memilih untuk tidak bekerja. Sebaliknya, ketika kita memilih menggunakan waktu kita untuk bekerja, maka saat itu kita harus mengorbankan waktu luang kita.

Pada pembahasan teori penawaran tenaga kerja salah satunya menggunakan model labor-leisure choice dari neoklasik. Berdasarkan model tersebut kita menggunakan model pilihan bekerja atau waktu luang untuk menjelaskan perilaku penawaran tenaga kerja.

Berdasarkan model labor-leisure choice dari neoklasik berupaya untuk mengisolasi faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk bekerja atau menggunakan waktunya untuk waktu luang. Dan bila seseorang memilih untuk bekerja, berapa lama dia akan bekerja?. Hal-hal ini lah yang ingin kita bahas pada teori penawaran tenaga kerja kali ini.

 

Fungsi utilitas untuk penawaran tenaga kerja

Model labor leisure-choice ini mencoba menggambarkan dalam bentuk fungsi utilitas. Fungsi utilitas akan menggambarkan utilitas/kepuasan yang akan diperoleh oleh seseorang. Kita sejak awal mengatakan bahwa kita membutuhkan bekerja atau waktu luang. Kita memilih untuk bekerja untuk memperoleh pendapatan. Dan pendapatan (uang) akan dipergunakan untuk konsumsi. Manusia membutuhkan konsumsi untuk memperoleh kepuasan kita. Dan kita juga membutuhkan waktu luang untuk dinikmati.

Dengan demikian, seseorang untuk mendapatkan kepuasan (utilitas) akan membutuhkan dua hal yaitu konsumsi barang atau jasa (C) dan membutuhkan konsumsi waktu luang (L). Kepuasan yang akan diperoleh dari konsumsi barang (C) dan waktu luang (L) dapat dirumuskan sebagai berikut:

U = f (C, L)

Utilitas (U) merupakan tingkat kepuasan atau kebahagiaan seseorang. Fungsi utilitas dari penawaran tenaga kerja merupakan fungsi dari konsumsi barang dan konsumsi waktu luang (leisure). Tingkat utilitas yang lebih tinggi akan menandakan seseorang lebih puas atau lebih bahagia. Namun perlu diingat bahwa disini asumsinya menganggap lebih banyak uang atau lebih banyak waktu luang keduanya memberikan kepuasan bagi seseorang. Sehingga C dan L dianggap “bagus” bukan “jelek”.

Konsep indifference curve perlu kita pelajari juga untuk menggambarkan bagaimana kombinasi C dan L. Indifferen curve (kurva indiferen) pada teori penawaran tenaga kerja ini menggambarkan kombinasi mengkonsumsi barang (C) dan mengkonsumsi waktu luang (L) yang mana memberikan tingkat kepuasan (utilitas) yang sama.

Menggunakan konsep indifference curve, kita dapat memperoleh tingkat kepuasan yang sama pada sepanjang kurva dengan berbagai kombinasi konsumsi barang atau waktu luang. Kita dapat memilih lebih banyak bekerja dan sedikit waktu luang. Atau sebaliknya, memiliki lebih banyak waktu luang atau sedikit waktu bekerja. Kombinasi-kombinasi ini memberikan kepuasan yang sama. Namun bila garis indifference curve nya bergeser semakin ke kanan atau keatas berarti tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

 

Kendala Anggaran dan pendapatan

Karena kita menggunakan indifference curve dalam analisis kita, kita menganggap bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi barang (C) dan leisure (L) akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Tentu kita menginginkan indifference curve yang lebih tinggi untuk mencapai kebahagiaan yang tinggi. Namun, terdapat kendala yang membatasi kita mencapai indifference curve lebih tinggi yaitu adanya kendala anggaran (budget constraint).

Budget constrain (kendala anggaran) yang dimiliki seseorang untuk konsumsi barang dapat dirumuskan dengan:

C = wh + V

C merupakan pengeluaran untuk konsumsi barang. Pendapatan tenaga kerja dirumuskan dengan w.h. Sedangkan V menggambarkan pendapatan bukan sebagai tenaga kerja (nonlabor income).

Pendapatan seseorang dapat berupa “nonlabor income” dan dilambangkan dengan V. Pendapatan ini dapat berupa deviden, lotre, bagi hasil usaha atau pendapatan dari property yang dimiliki. Pendapatan ini menjadi variabel yang mempengaruhi berapa lama kita akan bekerja. Semakin lama kita bekerja karena ada motif mencari pendapatan yang lebih banyak.

Pendapatan dari bekerja sebagai tenaga kerja (labor income) disimbolkan dengan w.h. Labor income dengan demikian berasal dari tingkat pendapatan per jam (w) dikali dengan berapa lama (jam) yang seseorang ingin alokasikan untuk bekerja (h).

Pada persamaan diatas bahwa konsumsi barang dibatasi oleh anggaran yang dimiliki. Kita juga melihat dari rumus diatas bahwa upah (w) memiliki peranan penting terhadap keputusan seseorang untuk mau bekerja (penawaran tenaga kerja).

Selain itu, faktor jumlah jam kerja juga memainkan peranan penting. Dalam konsep tingkat pendapatan marginal atau pendapatan yang diperoleh pada jam kerja terakhir akan bergantung pada faktor lama jam kerja. Kecenderungannya, semakin lama jam kerja akan memberikan tingkat pendapatan marginal yang lebih tinggi, sehingga pendapatan yang diperoleh pada orang yang bekerja lebih lama akan cenderung lebih tinggi.

Seseorang akan berusaha untuk mendapatkan tingkat kepuasan (utilitas) tertinggi yang bisa mereka capai. Oleh karena itu, seseorang akan berusaha untuk mengkombinasikan konsumsi barang (C) dan leisure (L) yang dimiliki untuk mencapai indifference curve tertinggi. Karena ada batasan anggaran, maka indifference curve tertinggi yang bsia dicapai pada saat indifference curve tersebut bersentuhan dengan garis batasan anggaran (budget constraint).

Sejauh pembahasan kita ini, kita dapat melihat bahwa keputusan seseorang untuk bekerja atau tidak akan ditentukan oleh pendapatan nonlabor, upah dan jam kerja. Jam kerja selanjutnya akan menyesuaikan saja dengan opportunity set. Oleh sebab itu keputusan seseorang bekerja atau tidak ditentukan oleh nonlabor income dan tingkat upah.

 

Demikian pembahasan teori penawaran tenaga kerja ini. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top