Ukuran distribusi pendapatan (indikator ketimpangan pendapatan)

Distribusi pendapatan menjadi salah satu persoalan didalam hal kesejahteraan masyarakat. Pembahasan distribusi pendapatan menarik karena memiliki dampak pada kehidupan masyarakat semisal terkait dengan kemiskinan. Untuk mengatakan distribusi pendapatan merata atau mengalami ketimpangan harus memiliki ukuran/indikator. Ukuran distribusi pendapatan atau indikator ketimpangan pendapatan menjadi penting untuk menilai kondisi distribusi pendapatan di suatu negara.

Pendapatan nasional tidak hanya harus dilihat pertumbuhannya namun juga bagaimana distribusi pendapatan nasional tersebut. Dalam distribusinya apakah terjadi ketimpangan pendapatan atau tidak. Ukuran ketimpangan distribusi pendapatan terdapat beberapa alat ukur.

Distribusi pendapatan akan berbicara mengenai bagaimana pendapatan nasional di distribusikan. Apakah timpang (porsi besarnya hanya dinikmati oleh sebagian orang) atau merata (dinikmati oleh banyak orang dengan porsi yang merata). Distribusi pendapatan erat dengan perasaan “keadilan” bagi masyarakat.

Kurang adil rasanya bila terjadi ketimpangan (pendapatan nasional didistribusikan sebagian besar porsinya kepada sekelompok kecil orang. Dan bagian kecil pendapatan nasional justru harus dibagi dengan banyaknya kelompok masyarakat lainnya).

Artinya ketimpangan distribusi pendapatan memberikan ketidakadilan. Karena distribusi pendapatan nasional dinikmati hanya segelintir orang saja.

Cara mengukur ketimpangan distribusi pendapatan dapat dilakukan dengan beberapa indikator. Diantaranya dengan kurva lorenz, koefisien gini, kriteria bank dunia dan indeks theil. Setiap cara memiliki karakteristik sendiri. Memilih ukuran ketimpangan distribusi pendapatan tergantung pada data yang tersedia dan karakteristik/sifat yang diperlukan. Misalnya komparabilitas antar sektor atau kemudahan interpretasi.

Beberapa cara mengukur ketimpangan distribusi pendapatan yang dikenal yaitu kurva lorenz, koefisien Gini dan indeks Theil. Koefisien Gini didasarkan pada kurva Lorenz. Indikator tersebut banyak digunakan karena mudah diinterpretasikan. Indeks Theil kurang populer karena interpretasi kurang intuitif. Namun, itu dianggap sebagai indeks yang unggul karena beberapa sifatnya.

Pada kesempatan ini akan diulas lebih jauh mengenai cara mengukur ketimpangan distribusi pendapatan dengan indikator-indikator tersebut:

Mengukur Distribusi Pendapatan dengan Kurva Lorenz

Kurva Lorenz adalah representasi grafis dari proporsionalitas distribusi variabel. Dengan variabel yang digunakan dalam hal ini pendapatan (atau upah). Untuk mengukur distribusi pendapatan rumah tangga. Kurva digambar dengan memplot persentase bagian dari total pendapatan (sumbu y) terhadap persentase populasi (sumbu x). Dan disusun dari yang termiskin ke terkaya.

Setiap titik pada kurva Lorenz menunjukkan untuk x persen rumah tangga terbawah. Sebagi ukuran berapa persen nilai pendapatan yang mereka miliki.

Sebuah negara dengan distribusi pendapatan yang sama / setara akan ditunjukkan oleh garis 45 derajat (garis kesetaraan sempurna). Karena pada sudut 45 derajat, setiap rumah tangga memiliki pendapatan yang sama (x = y).

Nilai kurva Lorenz dinilai dari perbandingandengan garis kesetaraan sempurna ini. Dengan kurva yang lebih dekat dengannya, menunjukkan distribusi pendapatan yang lebih setara (distribusi pendapatan lebih merata).

Kurva Lorenz:  ketimpangan dan garis kesetaraan sempurna

kurva lorenz
kurva lorenz

 

Mengukur Ketimpangan Pendapatan dengan Koefisien Gini

Koefisien gini atau gini rasio atau indeks gini adalah ukuran ketimpangan distribusi pendapatan yang paling terkenal. Indeks gini mengukur tingkat ketidaksetaraan dalam suatu distribusi. Untuk studi ketimpangan pendapatan, koefisien gini biasanya digunakan ditingkat negara untuk mengukur distribusi pendapatan rumah tangga.

Koefisien gini biasanya didefinisikan secara matematis dengan didasarkan perbandingan kurva Lorenz dan garis 45 derajat kesetaraan sempurna. Koefisien Gini adalah rasio area antara kurva Lorenz suatu negara dan garis kesetaraan sempurna. Diatas total area di bawah garis kesetaraan sempurna.

Koefisien gini berkisar dari 0 yang menunjukkan kesetaraan sempurna. Hingga 1 yang menunjukkan ketimpangan sempurna. Secara grafis, semakin dekat kurva Lorenz suatu negara dengan garis kesetaraan sempurna 45 derajat, maka semakin setara distribusi pendapatan. Namun, bila ketimpangan sempurna terjadi berarti dimana satu orang memiliki semua pendapatan atau konsumsi sementara yang lain tidak.

Negara dengan distribusi pendapatan yang merata sempurna akan memiliki koefisien Gini 0. Dan kurva Lorenz yang bertepatan dengan garis kesetaraan sempurna.

Secara lebih jauh, nilai koefisien gini dapat dibuatkan kategori-kategori untuk dapat diberikan justifikasi atas nilai koefisien gini yang diperoleh. Terdapat beberapa kategori ketimpangan distribusi pendapatan dinilai dari gini rasio. Klasifikasi ketimpangan distribusi pendapatan dapat dibuat sebagai berikut:

Nilai Koefisien giniTingkat Ketimpangan Distribusi pendapatan
< 0,4Tingkat ketimpangan rendah
0,4 – 0,5Tingkat ketimpangan sedang
> 0,5Tingkat ketimpangan tinggi

Dari ketiga klasifikasi tersebut, kita dapat menilai kondisi ketimpangan distribusi pendapatan disuatu daerah atau negara apakah tergolong rendah, sedang atau justru tinggi.

Karena koefisien gini mengukur ketimpangan melalui rasio, sehingga gini rasio mudah ditafsirkan. Dan karenanya digunakan secara luas. Namun, koefisien gini mempunyai kelemahan sehingga telah dikritik karena ketidakmampuannya untuk menangkap seberapa dalam distribusi ketimpangan terjadi.

Dengan demikian negara-negara dengan distribusi pendapatan yang sangat berbeda mungkin memiliki koefisien gini yang sama. Selain itu, koefisien Gini adalah non-aditif di seluruh subkelompok. Yang berarti bahwa seseorang tidak dapat menguraikan nilai koefisien yang dimiliki.

 

Ukuran Ketimpangan Distribusi Pendapatan dengan Kriteria Bank Dunia

Ukuran lain yang dapat digunakan untuk mengukur ketimpangan distribusi pendapatan. Yaitu dengan kriteria bank dunia. Kriteria ketimpangan distribusi bank dunia dibuat untuk melihat besarnya kontribusi (sumbangan) dari 40 persen masyarakat termiskin.

Adapun secara lebih jelas ukuran ketimpangan distribusi pendapatan sesuai kriteria bank dunia yaitu:

  1. Ketimpangan tinggi. Distribusi pendapatan dapat dikatakan ketimpangan tinggi. Yaitu apabila 40% kelompok penduduk termiskin mendapatkan distribusi pendapatan nasional lebih kecil dari 12 persen dari total pendapatan nasional.
  2. Ketimpangan sedang (moderat). Ketimpangan distribusi pendapatan dapat dikatakan moderat. Yaitu apabila kelompok dari 40% penduduk termiskin mendapatkan 12-16% porsi distribusi pendapatan nasional
  3. Ketimpangan rendah. Ketimpangan dikatakan rendah. Yaitu apabila 40% penduduk termiskin mendapatkan distribusi pendapatan nasional lebih dari 16%.

 

Ukuran Ketimpangan Distribusi Pendapatan dengan Indeks Theil

Indeks Theil adalah indeks ketimpangan yang jarang digunakan. Ini berbeda dari koefisien Gini dalam hal ini dapat diurai. Sehingga membuatnya aditif di berbagai subkelompok. Hal ini memungkinkan pengelompokan skor ketimpangan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.

Karena memiliki keuntungan menangkap di mana terjadi ketidaksetaraan distribusi. Itu dapat digunakan untuk menyoroti ketidaksetaraan untuk set data yang berbeda.

Misalnya, wilayah atau sub-kelompok. Meskipun mudah didekomposisi, indeks Theil kurang populer daripada koefisien Gini. Karena tidak memberikan interpretasi langsung dari ketidaksetaraan.

Indeks Theil dasar adalah:

model dasar indeks theil

Dimana n adalah jumlah individu dalam populasi. yp adalah pendapatan dari orang yang diindeks oleh p, dan μy adalah pendapatan rata-rata populasi.

Jika setiap individu memiliki pendapatan yang persis sama, T akan menjadi nol. Dengan demikian mewakili kesetaraan sempurna dan merupakan nilai minimum T. Theil.

Jika satu individu memiliki semua pendapatan, T akan sama dengan n. Ini mewakili ketimpangan tertinggi dan merupakan nilai maksimum dari indeks T Theil.

 

Contoh Distribusi Pendapatan dan Ukuran Ketimpangannya

Sebagai contoh ketimpangan distribusi pendapatan, kita dapat melihat kasus Indonesia. Salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur ketimpangan yaitu dengan gini rasio. Kita akan melihat ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia melalui data gini rasio pada tahun 2010-2019. Perhatikanlah grafik berikut:

Kesenjangan ekonomi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir

Dari data gini rasio diatas, terdapat beberapa poin yang dapat diambil yaitu:

  1. Selama periode 2010-2019 terjadi tren kenaikan ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia
  2. Setengah dari periode waktu yang ada terkategori sebagai ketimpangan sedang, dan sebagian periode mengalami ketimpangan rendah. Meskipun terkategori rendah, namun nilai gini rasio mendekati kategori sedang.
  3. Ketimpangan distribusi pendapatan terutama terjadi di wilayah perkotaan. Selama periode 2010-2019, perkotaan didominasi oleh kondisi ketimpangan sedang. Adapun wilayah pedesaan selama periode yang sama, memiliki ketimpangan rendah.

 

Demikian pembahasan ukuran distribusi pendapatan (indikator ketimpangan pendapatan). Semoga pembahasan ini dapat membawa manfaat bagi kita. Mohon maaf atas segala kekeliriun dalam tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top