Surplus Konsumen dan Surplus Produsen serta grafiknya

Memahami konsep surplus konsumen dan surplus produsen sangat penting agar dapat memahami bagaimana mekanisme pasar yang efisien terjadi. Kurva permintaan dan penawaran dapat menjadi alat yang bergunakan untuk menjelaskan mengenai pasar yang efisien. Namun, didalam memahami kurva permintaan dan penawaran, ada konsep surplus konsumen dan produsen yang harus dipahami.

Pada kesempatan ini, kita ingin mempelajari lebih jauh mengenai apa itu surplus konsumen dan surplus produsen?

 

Pengertian Surplus Konsumen

Pengertian surplus konsumen adalah perbedaan antara jumlah maksimum yang seseorang ingin membayar (willing to pay) atas suatu barang dengan harga barang tersebut saat ini dipasar. Jumlah yang seseorang ingin membayar menunjukkan harga yang konsumen mau/bersedia membayar untuk suatu barang. Harga pasar menunjukkan harga yang harus dibayar untuk membeli barang tersebut.

Dengan demikian, surplus konsumen adalah perbedaan/selisih dari harga yang bersedia dibayar oleh konsumen dengan harga yang harus dibayarkan untuk membeli barang. Misalkan seseorang bertanya kepada anda “berapa harga yang bersedia anda bayar untuk membeli produk A?” Katakanlah anda bersedia/mau membayar produk A seharga 5 juta. Dan harga barang A dipasar ternyata hanya sebesar 2 juta. Harga barang ternyata lebih murah dari harga yang bersedia anda bayar. Disitulah adanya surplus konsumen.

Agar lebih memahami, mari kita pelajari surplus konsumen serta grafiknya sebagai berikut:

Kurva surplus konsumen dan surplus produsen
Kurva surplus konsumen dan surplus produsen

Pada kurva surplus konsumen diatas, kondisi surplus konsumen digambarkan oleh daerah berwarna hijau. Mari kita uraikan bagaimana cerita daerah hijau diatas menjadi daerah surplus konsumen. Kita misalkan saja cerita kita mengenai permintaan barang A dengan tingkat harga pasar sebesar 5 rupiah. Kita juga memisalkan ada 3 titik (x, y, z) yang akan dilihat surplus konsumen yang muncul.

Kurva D menggambarkan keinginan konsumen untuk membeli pada berbagai tingkat harga. Kita ambil contoh titik x. Terdapat konsumen yang bersedia membayar pada tingkat harga sebesar 15 rupiah, dengan kuantitas yang ingin dibeli oleh konsumen sebanyak 1 buah. Inilah yang digambarkan oleh titik X. Namun pada kenyataannya, harga pasar yang berlaku untuk barang A sebesar 5 rupiah. Konsumen bersedia untuk membayar seharga 15 rupiah, namun mendapati kenyataan ternyata harga barang A lebih murah.

Dengan demikian, konsumen mendapatkan surplus konsumen karena membayar lebih murah dari yang siap dibayarkan. Perbedaan harga yang siap dibayarkan dengan harga barang tersebut yang berlaku dipasar adalah sebanyak 10 rupiah. Artinya setiap barang A yang dibeli oleh konsumen mendapatkan surplus konsumen sebesar 10 rupiah.

Bagaimana bila yang terjadi adalah titik Y? Konsepnya tidak jauh berbeda. Pada titik Y, konsumen bersedia untuk membayar barang A seharga 10 rupiah. Namun, harga barang A dipasar pada kenyataannya hanya sebesar 5 rupiah. Harga barang A sebesar 5 rupiah dipasar karena dari awal kita memisalkan bahwa harga barang tersebut sebesar 5 rupiah.

Ada perbedaan harga yang bersedia dibayar oleh konsumen dan harga yang berlaku dipasar. Terdapat perbedaan 5 rupiah harga yang bersedia dibayar dan harga yang harus dibayar (harga pasar). Pada titik Y, konsumen bersedia membayar 10 rupiah dengan kuantitas sebanyak 2. Karena harga barang hanya 5 rupiah dipasar, sehingga konsumen mendapatkan surplus konsumen sebesar 5 rupiah untuk tiap barang yang dibeli.

Pada titik Z, kita melihat bahwa konsumen yang bersedia membayar seharga 5 rupiah dengan kuantitas sebanyak 3 barang A. Pada titik Z ini tidak ada perbedaan antara harga yang ingin dibayar oleh konsumen dengan harga pasar barang A. Pada kondisi ini tidak surplus konsumen yang terjadi.

Dari gambaran titik X, Y, Z dapat kita lihat bahwa semakin tinggi harga yang bersedia dibayar oleh konsumen, akan semakin sedikit kuantitas barang yang bersedia dibayar. Karena semakin sedikit juga orang mampu membeli bila harga mahal. Oleh karenanya, gambaran surplus konsumen terlihat seperti pada daerah hijau.

Gambaran kesediaan membayar (willing to pay) diatas harga pasar itu menggambarkan surplus konsumen. Dan pada kondisi itu konsumen sanggup membeli barang A. Namun bila willingness to pay konsumen berada pada tingkat harga dibawah harga pasar, maka konsumen tidak akan membeli barang tersebut.

 

Pengertian Surplus Produsen

Pengertian surplus produsen adalah perbedaan antara harga pasar saat ini untuk suatu barang dengan total biaya penuh untuk produksi dari perusahaan/produsen. Harga pasar merujuk pada harga yang berlaku untuk barang tersebut di pasar. Total biaya disini merujuk pada harga yang perusahaan harapkan untuk dibayar. Harga yang diharapkan disini tentu harga yang pantas bagi perusahaan agar bertahan dalam industry tersebut. Dengan demikian, Biaya total yang diharapkan perusahaan akan menyangkut total biaya produksi dan keuntungan yang cukup.

Perhatikanlah kurva surplus produsen diatas. Kita anggap saja harga pasar untuk barang A seharga 5 rupiah. Sedangkan kurva S menggambarkan keinginan produsen/perusahaan untuk produksi dan melakukan penawaran dipasar.

Pada tingkat harga barang A sebesar 3 rupiah, produsen hanya ingin menjual barang A sebanyak 1 barang. Harga yang diharapkan perusahaan sebesar 3 rupiah, namun ternyata harga pasar yang berlaku untuk barang A sebesar 5 rupiah. Artinya terdapat surplus produsen sebesar 2 rupiah tiap unit barang. Harga yang berlaku dipasar lebih besar dari harga yang diharapkan produsen. Inilah surplus produsen yang terjadi pada titik X.

Pada titik Y, harga yang diharapkan oleh produsen yaitu sebesar 4 rupiah untuk mau melakukan penawaran barang A sebanyak 2 barang. Namun karena harga pasar sebesar 5 rupiah lebih tinggi dari harga yang diharapkan oleh produsen, maka pada titik Y ini terjadi surplus produsen.

Pada titik Z tidak ada surplus produsen yang terjadi. Sebab harga pasar dan harga yang diharapkan oleh produsen sama. Pada titik Z ini kuantitas barang yang ingin dijual oleh produsen yaitu sebesar 3 unit barang A.

 

Maksimalisasi Surplus Konsumen dan Surplus produsen

Kurva Maksimalisasi Surplus konsumen dan surplus produsen

Pada kurva diatas kita ingin menggambarkan cara untuk maksimalisasi surplus konsumen dan surplus produsen. Harga barang saat ini yaitu sebesar 15 rupiah per barang. Dengan tingkat harga tersebut, konsumen mendapatkan surplus konsumen sebagaimana yang tergambar warna hijau. Dari sisi produsen, dengan tingkat harga sebesar 15 rupiah per barang ternyata mendapatkan surplus produsen sebesar daerah warna kuning.

Cara agar maksimalisasi surplus konsumen dan produsen terjadi yaitu membiarkan produksi sejumlah 30 pada tingkat harga 15 rupiah. Disini tercipta surplus konsumen dan produsen yang maksimum. Katakanlah harga barang sebesar 15 rupiah, namun misalkan produsen hanya memproduksi barang sejumlah 20 barang. Pada kondisi demikian, surplus produsen yang diperoleh akan berkurang karena daerah surplus konsumen masih bsa diperbesar. Sedangkan dari sisi konsumen, memang permintaan banyak, namun karena barang yang ditawarkan terbatas, sehingga surplus konsumen juga menjadi berkurang.

Surplus konsumen dan surplus produsen yang maksimum memang akan tercipta pada tingkat harga 15 rupiah dengan jumlah yang ditawarkan dan diminta sama yaitu sejumlah 30 barang.

Pada penjelasan diatas kita melihat cara maksimalisasi surplus konsumen dan surplus produsen. Bagaiaman bila surplus konsumen dan surplus tersebut justru tidak berapa kondisi maksimal? Hal tersebut akan membuat terjadi Deadweight Loss. Pelajari kelanjutan materi ini pada link berikut:

Baca Part 2: Deadweight Loss

Demikian pembahasan singkat mengenai surplus konsumen dan surplus produsen. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top