Laba Maksimum

Laba Maksimum

Tujuan perusahaan menjalankan bisnis yaitu mencari laba. Laba yang paling diinginkan yaitu laba maksimum. Laba maksimum yaitu kondisi laba yang diperoleh perusahaan mencapai tingkat maksimum (tertinggi). Sebelum membahas bagaimana itu laba maksimum, mari kita mulai dengan meninjau kembali pemahaman mengenai laba.

Laba atau keuntungan atau profit adalah selisih antara total penerimaan perusahaan dengan total biaya produksi. Kita simbolkan saja laba dengan π, total penerimaan disimbolkan TR dan biaya total produksi disimbolkan TC. Sehingga rumus laba dapat dibuat sebagai berikut:

π = TR – TC

Namun, dari rumus diatas perlu diperhatikan bahwa syarat agar perusahaan mendapatkan laba yaitu bila π benilai positif atau dengan kata lain TR > TC. Artinya total penerimaan harus lebih besar dari biaya total produksi. Bila biaya total produksi lebih besar dari total penerimaan (TR < TC), hal tersebut justru nilai π. Nilai π negatif menandakan perusahaan menderita kerugian.

Total penerimaan (TR) merupakah penerimaan dari hasil penjualan. Total penerimaan berasal dari jumlah barang yang dijual (Q) dikalikan dengan harga satuan barang yang dijual (P). Rumus total penerimaan sebagai berikut:

TR = P x Q

Adapun total biaya merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi barang tersebut. Ketika mempelajari teori perilaku produsen atau biaya produksi, kita mengetahui bahwa perusahaan menggunakan input tetap dan input variabel untuk memproduksi barang. Agar tidak bingung mengenai kedua istilah tersebut pelajari juga teori perilaku produsen dan biaya produksi.

Penggunaan input tetap oleh perusahaan akan menimbulkan biaya tetap (fixed cost), yang disimbolkan FC. Sedangkan penggunaan input variabel oleh perusahaan akan menimbulkan biaya variabel (variable cost), yang disimbolkan VC.

Sehingga total biaya untuk memproduksi barang dirumuskan dengan:

TC = FC + VC

Sejauh ini, terdapat tiga rumus yang kita dapatkan yaitu rumus laba, rumus total penerimaan dan rumus total biaya. Bila rumus total penerimaan dan rumus total biaya disubstitusikan kedalam rumus laba, maka kita akan mendapatkan rumus laba dengan:

π = P.Q  – (FC + VC)

Sejauh ini yang kita pelajari yaitu mengenai rumus laba. Namun hal tersebut masih belum menjawab apakah laba yang diperoleh perusahaan sudah merupakan laba maksimum atau tidak.

 

Laba maksimum

Menurut rahardja dan manurung (2008) bahwa ada tiga pendekatan untuk mencapai laba maksimum. Ketiga pendekatan tersebut yaitu pendekatan total biaya, pendekatan biaya rata-rata, dan pendekatan biaya marginal.

Pendekatan totalitas menganggap untuk mendapatkan laba maksimum yaitu dengan melakukan penjualan maksimum. Dengan penjualan maksimum maka laba yang diperoleh akan semakin besar. Namun keputusan perusahaan sebelum melakukan strategi penjualan maksimum, harus memperhatikan juga titik impas atau break event point. Laba akan diperoleh ketika kuantitas penjualan melebihi titik impas. Titik impas (break event point) yaitu kondisi dimana:

TR = TC

Titik impas terjadi ketika total penerimaan akan sama dengan total biaya. Kondisi tersebut dari sisi uangnya. Sedangkan dari sisi kuantitas barang yang dijual, untuk mendapatkan jumlah barang yang dijual pada saat titik impas (Q*) dapat dirumuskan dengan:

Q* = P. Q* – (FC + FC. Q*) atau

Q* = FC / (P-VC)

Titik impas ini akan menjadi acuan penjualan minimal. Disini perusahaan tidak mendapatkan keuntungan namun tidak juga rugi. Penjualan yang terjadi melebihi titik impas akan mendapatkan laba. Bila perusahaan mengetahui penjualan maksimal yang dapat dilakukan, dan penjualan tersebut diatas titik impas, maka perusahaan akan menjual pada kuantitas maksimum agar keuntungan yang diperoleh maksimal.

Dari pendekatan rata-rata akan melihat keuntungan dari perhitungan laba per unit. Pendekatan rata-rata ini melihat laba dari selisih harga penjualan dengan biaya produksi rata-rata per unit. Perbedaan antara harga jual dan biaya rata-rata per unit barang ini akan menjadi keuntungan yang diperoleh per unit barang. Sedangkan untuk laba total akan diperoleh dari laba per unit barang dikalikan dengan jumlah barang yang dijual. Sehingga dapat dirumuskan:

π = (P – AC) Q

Dari sisi rata-rata bahwa laba terjadi ketika harga penjualan lebih tinggi dari biaya rata-rata. Sedangkan titik impas akan terjadi saat harga jual barang sama dengan biaya rata-rata. Bila biaya rata-rata lebih tinggi dibanding harga jual, maka produsen tidak mau untuk berproduksi. Dengan demikian, untuk mendapatkan laba maksimum maka harus melakukan strategi penjualan maksimum yang dapat dilakukan. Dengan melakukan penjualan maksimum maka akan diperoleh laba maksimum.

Meskipun demikian ada dua pendekatan diatas, perhitungan laba maksimum dalam ekonomi pada umumnya menggunakan pendekatan marginal. Pendekatan marginal dilakukan dengan membandingkan penerimaan marginal (MR) dengan biaya marginal (MC). Laba maksimum akan tercapai pada saat:

MR = MC

Laba maksimum tercapai pada kondisi biaya marginal sama dengan penerimaan marginal. Hal ini dapat dibuktikan secara verbal, matematis bahkan grafis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top