Labor Intensive dan Capital Intensive

Arti labor intensive adalah padat karya, sedangkan arti capital intensive adalah padat modal. Pembahasan labor intensive dan capital intensive ini berhubungan dengan persoalan pilihan metode produksi yang dilakukan oleh perusahaan. Didalam memproduksi barang dan jasa, perusahaan membutuhkan yang namanya input produksi. Input produksi ini mencakup segala macam hal yang diperlukan untuk menghasilkan barang atau jasa yang diproduksi perusahaan. Misalnya untuk membuat kue diperlukan mesin, bahan baku seperti tepung, kompor, air, minyak dan lainnya. Semua hal tersebut adalah input yang dipergunakan didalam memproduksi barang.

Baca juga: Teori produksi

Dalam konteks ekonomi, input produksi terdiri atas tenaga kerja dan modal. Untuk memudahkan pemahaman bagaimana ekonomi bekerja, input untuk produksi dikategorikan kedalam kedua kelompok tersebut yaitu modal (capital) dan tenaga kerja (labor). Apa yang termasuk ke dalam modal (capital) dan tenaga kerja (labor) dapat dipelajari lebih lanjut pada pembahasan sebelumnya.

Didalam memproduksi barang, perusahaan/produsen mempunyai kewenangan untuk mengatur seberapa banyak jumlah modal dan jumlah tenaga kerja yang akan dipergunakan. Didalam keputusan penggunaan modal dan tenaga kerja, terdapat banyak sekali kemungkinan pilihan yang dapat dipilih perusahaan. Misalnya perusahaan dapat memilih lebih banyak modal atau memilih lebih banyak tenaga kerja yang dipergunakan untuk produksi. Pilihan metode produksi yang dipergunakan tersebut dapat bersifat capital intensive dan labor intensive.

Lantas apakah labor intensive dan capital intensive tersebut?

Labor intensive vs capital intensive, metode manakah yang harus dipilih?

Apakah suatu perusahaan memilih metode padat modal atau padat karya tergantung pada rasio modal vs. tenaga kerja yang dibutuhkan dalam produksi.

 

Labor Intensive (Padat Karya)

Labor intensive adalah mengacu pada produksi yang membutuhkan input tenaga kerja yang lebih tinggi dalam aktivitas produksinya dibanding dengan keperluan modal yang dibutuhkan. Artinya istilah labor intensive “padat karya” mengacu pada proses atau perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk memproduksi barang atau jasanya.

Derajat padat karya (labor intensive) biasanya diukur secara proporsional biaya tenaga kerja terhadap jumlah modal yang dibutuhkan untuk memproduksi barang atau jasa: semakin tinggi proporsi biaya tenaga kerja yang dibutuhkan, semakin padat karya pada bisnis tersebut. Labor Intensive dan Capital Intensive saling berlawanan. Saat biaya tenaga kerja lebih tinggi, perusahaan menerapkan labor intensive.

Baca juga: Biaya produksi

Contoh industri padat karya antara lain pertanian, restoran, industri perhotelan, pertambangan dan industri lainnya yang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menghasilkan barang dan jasa. Misalkan pada sektor pertanian ada petani yang masih bekerja dengan cara tradisional seperti menanam, membajak hingga memanen sangat mengandalkan tenaga kerja manusia. Bisa jadi biaya tenaga kerja akan sangat tinggi dibandingkan biaya input modalnya. Dalam kasus tersebut pertanian tersebut memiliki proporsi yang besar dalam mengandalkan tenaga kerja manusia. Disinilah dikatakan sebagai labor intensive (padat karya).

Industri atau proses padat karya membutuhkan pekerjaan fisik yang besar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan. Contohnya saja dalam industri padat karya, bisa saja biaya yang terkait dengan personel pengamanan yang diperlukan lebih besar daripada biaya modal dalam hal kepentingan dan volume produksi. Pada umumnya banyak pekerjaan yang bersifat labor intensive membutuhkan tingkat keterampilan atau pendidikan yang rendah. Meskipun demikian, tidak berlaku untuk semua posisi padat karya.

Pada Negara berkembang ataupun terbelakang secara umum memiliki kecenderungan lebih padat karya. Kondisi umum ini karena pendapatan rendah berarti ekonomi atau bisnis tidak mampu untuk berinvestasi dalam modal mahal. Sebelum revolusi industri, 90% tenaga kerja bekerja di bidang pertanian. Memproduksi makanan sangat padat karya.

Perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi telah meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mengurangi intensitas tenaga kerja, dan memungkinkan pekerja untuk pindah ke manufaktur dan (baru-baru ini) jasa. Bila hal tersebut terjadi, bisa jadi derajat labor intensive akan berkurang dan bahkan beralih menjadi capital intensive.

 

Capital Intensive (Padat Modal)

Capital intensive adalah kondisi produksi yang memerlukan biaya modal yang lebih tinggi  dibanding dengan kebutuhan biaya untuk tenaga kerja. Perlu diketahui bahwa istilah modal dalam konteks ini tidak sama seperti istilah modal yang dipahami banyak kalangan awam. Modal dalam konteks ekonomi disini seperti mesin (baik itu seperti peralatan, mesin canggih maupun otomatis), perlengkapan terbaru, dan lainnya.

Baca juga: Teknologi Produksi

Perusahaan dikatakan padat modal apabila biaya untuk barang modal yang digunakan dalam produksi bernilai lebih mahal dibandingkan dengan biaya untuk keperluan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Industri padat modal menimbulkan hambatan masuk yang lebih tinggi karena mereka memerlukan lebih banyak investasi dalam peralatan dan mesin untuk memproduksi barang dan jasa.

Contoh yang baik dari industri padat modal termasuk industri penyulingan minyak, industri telekomunikasi, industri penerbangan, dan otoritas transportasi umum yang memelihara jalan, kereta api, kereta api, trem, dll.

Produksi padat modal membutuhkan lebih banyak mesin, peralatan dan sistem produksi berteknologi canggih dalam proses produksinya. Produksi padat modal membutuhkan tingkat investasi yang lebih tinggi dan jumlah dana dan sumber keuangan yang lebih besar. Proses produksi padat modal sebagian besar otomatis dan mampu menghasilkan output barang dan jasa yang besar. Karena produksi padat modal sebagian besar bergantung pada mesin dan peralatan, industri semacam itu membutuhkan investasi jangka panjang, dengan biaya tinggi yang terlibat dalam pemeliharaan dan penyusutan peralatan. Dalam proses produksi padat modal seperti itu, akan sangat mahal untuk meningkatkan tingkat output karena ini akan membutuhkan investasi yang lebih tinggi dalam mesin dan peralatan tersebut.

Terdapat perbedaan antara Labor Intensive dan Capital Intensive yang pada umumnya terjadi:

  • Labor Intensive dan Capital Intensive berkaitan dengan jenis metode produksi yang dipilih oleh seorang produsen dalam memproduksi barang dan jasa.
  • Perusahaan dengan metode produksi padat modal cenderung membutuhkan barang modal (peralatan dan mesin) dengan nilai biaya modal lebih tinggi dibandingkan biaya untuk tenaga kerja; oleh sebab itu, perusahaan padat modal akan membutuhkan investasi keuangan yang lebih besar pada barang-barang modal.
  • Padat karya mengacu pada produksi yang membutuhkan input tenaga kerja yang lebih mahal dibandingkan dengan biaya untuk modal yang dibutuhkan. Sehingga biaya tenaga kerja akan lebih mahal dibandingkan biaya modal.

 

Pada prinsipnya kondisi labor intensive menunjukkan industri tersebut condong pada penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. Sedangkan capital intensive cenderung lebih mengandalkan pada penggunaal modal seperti mesin, dan lainnya. Semoaga pembahasan Labor Intensive dan Capital Intensive ini bermanfaat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*