Melambatnya Pengurangan Kemiskinan Global

Pengurangan kemiskinan global, yang sempat menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa dekade terakhir, kini mengalami pelambatan yang mengkhawatirkan. Saat ini, hampir 700 juta orang, atau 8,5 persen dari populasi dunia, hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem, di mana pendapatan mereka tidak lebih dari $2,15 per hari. Situasi ini diperburuk oleh berbagai faktor, termasuk pertumbuhan ekonomi yang stagnan, dampak negatif dari pandemi COVID-19, dan meningkatnya kerentanan di banyak negara.

Salah satu aspek yang paling mencolok adalah peningkatan tingkat kemiskinan di negara-negara berpenghasilan rendah. Saat ini, lebih dari dua pertiga dari orang-orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem berada di Afrika Sub-Sahara, yang mencakup 16 persen dari populasi dunia namun menyumbang 67 persen dari total penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Ketika mempertimbangkan negara-negara yang rapuh dan terdampak konflik, angka tersebut dapat meningkat hingga tiga perempat. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin melebar antara negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Dengan proyeksi yang ada, diperkirakan pada tahun 2030, sebanyak 622 juta orang (7,3 persen dari populasi global) akan hidup dalam kemiskinan ekstrem. Angka ini menunjukkan penurunan yang sangat lambat dibandingkan dengan periode sebelumnya, di mana sekitar 150 juta orang berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem antara tahun 2013 dan 2019. Di samping itu, sekitar 3,4 miliar orang, atau hampir 40 persen dari populasi dunia, diperkirakan akan hidup dengan pendapatan kurang dari $6,85 per hari, standar yang lebih realistis bagi negara-negara berpenghasilan menengah ke atas.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan langkah-langkah yang lebih inklusif dan terarah dalam pertumbuhan ekonomi. Meningkatkan pendapatan tenaga kerja melalui penciptaan lapangan kerja yang lebih baik serta investasi dalam pendidikan, infrastruktur, dan layanan dasar sangat penting. Hal ini tidak hanya akan membantu mereka yang terjebak dalam kemiskinan ekstrem, tetapi juga akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

Pendidikan, khususnya, berperan sebagai kunci dalam mengangkat masyarakat dari kemiskinan. Investasi dalam pendidikan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, sehingga membuka peluang kerja yang lebih baik. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti akses ke listrik, air bersih, dan transportasi, dapat meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas masyarakat.

Namun, tanpa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, pencapaian tujuan pengurangan kemiskinan akan semakin sulit. Analisis menunjukkan bahwa jika tren saat ini berlanjut, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk memberantas kemiskinan ekstrem dan lebih dari satu abad untuk mengangkat mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan $6,85 per hari.

Dengan kata lain, upaya untuk mengatasi kemiskinan ekstrem memerlukan kolaborasi dan komitmen dari pemerintah, organisasi internasional, serta masyarakat sipil. Keberhasilan dalam mengatasi masalah ini akan sangat bergantung pada kapasitas untuk merespons tantangan global yang terus berkembang, serta menciptakan sistem yang lebih adil dan berkelanjutan bagi semua.

Be the first to comment

Leave a Reply