Teori keunggulan komparatif

Teori keunggulan komparatif yang dibawa oleh David Richardo menjadi pengembangan dari teori keunggulan mutlak. Pada teori keunggulan mutlak dan keunggulan komparatif ini berusaha untuk menjawab alasan mengapa antar dua negara harus melakukan perdagangan internasional. Pada teori keunggulan mutlak yang dibawa oleh Adam Smith memberikan penjelasan bahwa kedua negara akan mendapatkan manfaat dari perdagangan internasional. Dalam konsep yang dibawa oleh Adam Smith menggambarkan masing-masing negara memiliki keunggulan mutlak.

Baca juga: teori keunggulan mutlak

Ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab dalam teori keunggulan mutlak yang dibawa Adam Smith. Apa alasan untuk melakukan perdagangan internasional jika satu negara memiliki keunggulan mutlak pada dua barang, sedangkan negara lainnya tidak memiliki keunggulan mutlak? Contoh kejadian ini benar terjadi pada awal abad 19 dimana Inggris menjadi negara paling maju. Inggris memiliki keunggulan mutlak atas sebagian besar jenis barang.

Jika pada keunggulan mutlak mengutarakan alasan perdagangan internasional karena negara-negara memiliki keunggulan mutlak sehingga memberikan manfaat bagi keduanya. Pada kasus Inggris tersebut mengapa Inggris harus berdagang dengan negara yang kurang produktif? Seorang ekonom Inggris bernama David Richardo, mengembangkan teori keunggulan mutlak yang dimiliki Adam Smith menjadi teori keunggulan komparatif.

Bagaimana konsep teori keunggulan komparatif ini bekerja? Untuk dapat memahami teori keunggulan komparatif ini, perhatikanlah tabel ilustrasi berikut ini:

Handphone (per satu tenaga kerja per hari) Cangkul

(per satu tenaga kerja per hari)

Biaya relatif
China 10 15 10 H = 15 C atau 2/3 H = 1 C
Indonesia 1 3 1 H = 3 C atau 1/3 H = 1 C

 

Pada baris pertama (China) kita dapat melihat bahwa China dapat memproduksi 10 handphone per tenaga kerja atau 15 cangkul per tenaga kerja. Sedangkan Indonesia memiliki tenaga kerja dengan produktifitas sebanyak 1 handphone per satu tenaga kerja perhari atau sebanyak 3 cangkup per tenaga kerja dalam satu hari. Pada kedua produk yang ada, China mempunyai keunggulan mutlak.

Dari sini kita dapat melihat bahwa tenaga kerja China memiliki keunggulan mutlak 10/1 yang dapat dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia pada produksi handphone. Artinya tenaga kerja China mampu menghasilkan 10 Handphone per hari hanya dengan 1 tenaga kerja, sedangkan Indonesia dengan menggunakan jumlah tenaga kerja yang sama hanya mampu menghasilkan 1 Handphone saja. Begitu pula pada produksi cangkul. China memiliki keunggulan mutlak sebesar 15/3 dibandingkan yang dapat dihasilkan tenaga kerja Indonesia.

Indonesia dalam posisi tidak memiliki keunggulan mutlak, sedangkan China memiliki keunggulan mutlak pada dua produk yang diperdagangkan. Bila kita menggunakan konsep keunggulan mutlak sebagai basis melakukan perdagangan internasional, maka tidak aka nada perdagangan internasional antara China dan Indonesia. Namun dengan menggunakan teori keunggulan komparatif, kita masih memiliki peluang mendapatkan manfaat atas perdagangan internasional.

Dari ilustrasi diatas kita dapat membuat komparasi untuk produk mana China memiliki keunggulan mutlak yang lebih tinggi dan pada produk mana Indonesia memiliki ketidakunggulan yang lebih kecil. China memiliki keunggulan mutlak paling besar pada produk handphone. Sedangkan Indonesia memiliki ketidakunggulan paling rendah pada produk cangkul. Ketidak unggulan Indonesia pada produk handphone lebih besar. Perlu diingat bahwa pada bagian ini kita membandingkan derajat keunggulan absolut atau ketidakunggulan absolut dalam memproduksi kedua jenis abrang oleh kedua negara tersebut.

Berdasarkan logika yang dibuat Richado, kita dapat menganggap bahwa China memiliki keunggulan komparatif pada produk handphone. Karena China memiliki derajat keunggulan absolut yang lebih tinggi pada saat memproduksi handphone. Dengan demikian, China dianggap memiliki ketidakunggulan komparatif pada produk cangkul. Sebab pada saat memproduksi cangkul, China memiliki derajat keunggulan absolut yang lebih rendah.

Sebaliknya, Indonesia dianggap memiliki keunggulan komparatif pada produk cangkul, karena derajat ketidakunggulan absolut Indonesia dalam memproduksi cangkul lebih kecil. Indonesia memiliki ketidakunggulan komparatif pada produk handphone. Sebab pada saat memproduksi handphone, Indonesia memiliki derajat ketidakunggulan absolut yang lebih besar dibandingkan memproduksi cangkul.

Berdasarkan keunggulan komparatif yang dimiliki China dan Indonesia ini mereka dapat melakukan spesialisasi.  Karena China memiliki keunggulan komparatif pada produk handphone sebaiknya fokus melakukan spesialisasi pada produksi handphone agar dapat meningkatkan jumlah produksi lebih banyak dibandingkan harus memproduksi cangkul. Begitu juga dengan posisi Indonesia, dengan keunggulan komparatif pada produk cangkul, maka Indonesia harus fokus melakukan spesialisasi pada produk cangkul. Pekerja yang memproduksi handpone Indonesia dialihkan untuk memproduksi cangkul.

Dengan melakukan spesialiasi pada produk yang menjadi keunggulan komparatif masing-masing negara, perdagangan internasional diharapkan memberikan manfaat bagi kedua negara. China dapat menjual produk handphone ke Indonesia. Sedangkan Indonesia dapat mengekspor cangkul ke China. Dengan memanfaatkan keunggulan komparatif ini kedua negara dapat memperoleh keuntungan dalam perdagangan internasional.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top